Daftar koleksi senjata Iran: Dari drone hingga rudal balistik

Rabu, 04 Maret 2026

image

DUBAI - Ketika serangan Amerika Serikat dan Israel semakin intensif, kekuatan rudal Iran, yang secara luas dinilai sebagai pemilik inventaris rudal balistik terbesar di Timur Tengah, menjadi pusat konflik, memengaruhi pola pembalasan dan meningkatkan risiko eskalasi.

Seperti dikutip gulfnews.com (04/03/20026) ,Analis pertahanan menggambarkannya sebagai salah satu arsenal paling beragam di kawasan, mencakup rudal balistik, rudal jelajah, serta drone, dan menjadi tulang punggung strategi penangkalan (deterrence) Teheran. Berikut gambaran komprehensif kemampuan Iran.

>> Apa itu rudal balistik?

Rudal balistik adalah senjata berbahan bakar roket yang dipandu pada fase awal peluncuran, lalu mengikuti lintasan jatuh bebas untuk sebagian besar penerbangannya. Rudal ini dapat membawa hulu ledak konvensional dan berpotensi membawa muatan biologis, kimia, atau nuklir.

Pemerintah Barat memandang arsenal Iran sebagai ancaman militer konvensional sekaligus kemungkinan mekanisme pengantar senjata nuklir di masa depan — tuduhan yang dibantah Teheran.

>> Seberapa Jauh Jangkauan?

Iran menetapkan batas jangkauan resmi 2.000 km (1.240 mil), yang menurut pejabatnya sudah cukup untuk penangkalan karena menempatkan Israel dan pangkalan terkait AS di kawasan Teluk dalam jangkauan. Beberapa sistem diperkirakan mendekati 2.500 km.

Yang penting, terlepas dari klaim sejumlah figur politik AS, rudal-rudal ini tidak dapat menjangkau daratan utama Amerika Serikat.

Menurut Kantor Direktur Intelijen Nasional AS serta sejumlah lembaga pemikir independen, Iran memiliki:

>> Rudal Balistik Jarak Pendek (SRBM)

Shahab-1Perkiraan jangkauan: 300 kmBerbasis desain Scud-B

Shahab-2Perkiraan jangkauan: 500 kmBerbasis desain Scud-C

ZolfagharPerkiraan jangkauan: 700 kmBahan bakar padatAkurasi lebih baik dibanding sistem Shahab sebelumnya

Qiam-1Perkiraan jangkauan: 700–800 kmBahan bakar cairDesain tanpa sirip untuk manuver lebih baik

>> Rudal Balistik Jarak Menengah (MRBM)

Shahab-3Perkiraan jangkauan: 800–1.300 kmVarian terbaru mendekati batas atas

EmadPerkiraan jangkauan: 1.700 kmSistem pandu lebih baik dari Shahab-3

Ghadr-1Perkiraan jangkauan: 1.600–2.000 kmTurunan Shahab dengan jarak lebih jauh

KhorramshahrPerkiraan jangkauan: 2.000 kmKapasitas muatan lebih besarBeberapa varian dilaporkan diuji melebihi angka tersebut

SejjilPerkiraan jangkauan: 2.000–2.500 kmBahan bakar padatPersiapan peluncuran lebih cepat dibanding sistem cair

Kheibar ShekanPerkiraan jangkauan: 1.450 kmBahan bakar padatDiperkenalkan pada 2022

Haj QassemPerkiraan jangkauan: 1.400 kmBahan bakar padatDinamai dari Qassem Soleimani

>> Rudal Jelajah (Cruise Missiles)

SoumarPerkiraan jangkauan: 2.000–2.500 kmDiduga dikembangkan dari teknologi Kh-55

Ya-AliPerkiraan jangkauan: 700 km

Varian QudsPerkiraan jangkauan: 700–1.000 km (tergantung model)

HoveyzehPerkiraan jangkauan: 1.350 km

PavehPerkiraan jangkauan: 1.650 km

Ra’adPerkiraan jangkauan: 350 km (varian anti-kapal lebih pendek)

Kh-55 (desain asal Rusia)Jangkauan: hingga 3.000 kmRudal jelajah diluncurkan dari udaraDesain awalnya mampu membawa hulu ledak nuklir; Iran diyakini melakukan rekayasa balik terhadap sebagian sistem ini.

>> Rudal Jelajah dan Drone

Rudal jelajah terbang rendah dan dapat mengikuti kontur medan, sehingga lebih sulit dideteksi — terutama jika diluncurkan bersamaan dengan drone.

Iran juga sangat mengandalkan drone serang satu arah. Lebih lambat namun lebih murah, drone dapat dikerahkan secara bergelombang untuk membanjiri pertahanan udara serta memberi tekanan berkepanjangan pada bandara, pelabuhan, dan infrastruktur energi.

Dalam konflik saat ini, drone digunakan secara luas bersama rudal balistik dan jelajah sebagai bagian dari serangan terkoordinasi yang bertujuan meregangkan sistem pertahanan udara regional.

>> Drone: Lapisan Saturasi

Iran mengembangkan armada besar kendaraan udara tanpa awak (UAV), termasuk drone serang satu arah seperti seri Shahed yang dirancang untuk berputar (loitering) sebelum menghantam target.

Lebih lambat dan murah dibanding rudal balistik, drone dapat diluncurkan dalam gelombang untuk mengacaukan pertahanan udara atau mendampingi salvo rudal.

Analis menyebut pendekatan berlapis — menggabungkan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone — mempersulit upaya intersepsi karena sistem pertahanan harus melacak ancaman dengan kecepatan dan ketinggian berbeda secara bersamaan.

>>“Kota Rudal” Bawah Tanah

Iran berinvestasi besar dalam kemampuan bertahan (survivability).

Sedikitnya terdapat lima “kota rudal” bawah tanah yang diketahui, termasuk di provinsi Kermanshah dan Semnan serta dekat kawasan Teluk. Fasilitas ini mencakup depot penyimpanan, sistem peluncur tersembunyi, dan terowongan transportasi.

Pada 2020, Iran mengumumkan telah meluncurkan rudal balistik dari bawah tanah — menunjukkan kemampuan tetap menyerang meski telah menerima serangan awal.

Bagi perencana militer, infrastruktur yang diperkeras ini berarti melemahkan kemampuan rudal Iran mungkin memerlukan operasi berkelanjutan, bukan satu serangan penentu.

Rudal Hipersonik

Pada 2023, Iran memperkenalkan rudal balistik hipersonik produksi dalam negeri pertamanya, seri Fattah. Sistem hipersonik melaju minimal lima kali kecepatan suara dan dapat bermanuver secara tidak terduga.

Namun, verifikasi independen atas kemampuan operasional penuhnya masih terbatas.

>> Kapan Iran Pakai Rudalnya?
  • Penggunaan terbaru menunjukkan arsenal ini bukan sekadar teori. Berikut rinciannya:
  • Eskalasi 2026: Seiring meningkatnya serangan AS dan Israel, Iran meluncurkan rudal balistik dan drone ke Israel serta fasilitas terkait AS di kawasan, memperluas konflik dan menguji pertahanan udara regional.
  • Juni 2025 (Perang 12 hari dengan Israel): Iran menembakkan rudal balistik ke Israel, menewaskan puluhan orang dan merusak bangunan. Analis Institute for the Study of War menyebut Israel kemungkinan menghancurkan sekitar sepertiga persediaan tersebut, meski Teheran menyatakan telah memulihkannya.
  • Serangan ke Pangkalan Al Udeid (Qatar): Sebagai respons atas partisipasi AS dalam operasi Israel, Iran menembakkan rudal setelah memberi peringatan awal; tidak ada korban dilaporkan.
  • Januari 2024: Serangan rudal menargetkan fasilitas intelijen Israel di Kurdistan Irak serta kelompok Daesh (ISIS) di Suriah.
  • Serangan fasilitas minyak Saudi 2019: AS dan Arab Saudi menyalahkan Iran atas serangan drone dan rudal; Teheran membantah keterlibatan.
  • Serangan Irak 2020: Rudal ditembakkan ke pasukan pimpinan AS setelah pembunuhan Soleimani.
>> Selat Hormuz: Pengungkit Strategis

Doktrin rudal Iran juga mencakup gangguan maritim.

Melalui rudal anti-kapal, drone, ranjau laut, dan kapal cepat serang, Teheran dapat mengancam pelayaran di Selat Hormuz — jalur sempit penting bagi perdagangan minyak dan gas global.

Bahkan tanpa blokade resmi, peringatan terhadap kapal tanker dan lonjakan premi asuransi risiko perang dapat mengguncang pasar global.

>> Penangkalan dan Eskalasi

Iran berargumen bahwa kekuatan rudalnya mengimbangi angkatan udara yang menua dan memberikan efek penangkalan terhadap AS dan Israel. Analis Barat menilai program ini memicu ketidakstabilan dan meningkatkan risiko eskalasi.

Pertanyaan strategis kunci meliputi:

  • Berapa banyak peluncur yang dapat bertahan dari serangan berkelanjutan?

  • Seberapa efektif Iran menggabungkan gelombang rudal balistik, jelajah, dan drone?

  • Berapa lama pertukaran serangan dapat dipertahankan?

Konflik saat ini, yang telah meluas melampaui perbatasan Iran ke kawasan Teluk dan sebagian Levant, menunjukkan bagaimana kemampuan rudal Teheran telah bergeser dari sekadar alat penangkalan menjadi penggunaan aktif di medan tempur — membentuk dinamika militer dan keamanan regional. (SF)