Iran hujani rudal, negara kawasan pakai THAAD hingga Iron Dome
Rabu, 04 Maret 2026

JAKARTA - Ketegangan di Asia Barat kian memanas seiring meningkatnya serangan drone dan rudal jelajah Iran di berbagai negara di kawasan Teluk.
Seperti dikutip Money Control, negara-negara di wilayah tersebut mengaktifkan sistem pertahanan udara untuk mencegat ancaman sebelum menghantam daratan dan memicu kerusakan besar.
Sistem tersebut dirancang untuk mendeteksi, melacak, dan menghancurkan target udara dalam hitungan detik, sistem ini menjadi garis pertahanan utama dalam konflik berintensitas tinggi.Salah satu yang paling canggih adalah Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), sistem bergerak yang dirancang untuk mencegat rudal balistik pada fase akhir penerbangan.
THAAD dilengkapi radar X-band AN/TPY-2 dan interceptor “hit-to-kill” satu tahap yang mampu menghancurkan target di dalam maupun luar atmosfer.
Sistem ini menjadi lapisan menengah dalam arsitektur pertahanan rudal Amerika Serikat, dengan jangkauan perlindungan sekitar 150–200 km.Di lapisan bawah, terdapat MIM-104 Patriot, sistem utama pertahanan udara Angkatan Darat AS. Awalnya dirancang sebagai sistem antipesawat, Patriot kini mampu menghadapi rudal balistik, rudal jelajah, drone, hingga pesawat tempur.
Satu baterai Patriot terdiri dari radar, stasiun kendali, unit daya, dan beberapa peluncur. Sistem ini telah dioperasikan oleh 18 negara.
Israel mengandalkan Iron Dome sebagai tameng jarak pendek untuk mencegat roket dan artileri. Sistem mobile ini merupakan lapisan terbawah dalam pertahanan berlapis Israel.
Iron Dome menggunakan interceptor Tamir, radar ELM-2084, serta sistem kendali tempur.
Satu baterai biasanya memiliki tiga hingga empat peluncur dengan kapasitas hingga 20 rudal per peluncur, dan mampu melindungi area sekitar 150 km persegi.
Sistem ini juga dirancang selektif, hanya mencegat proyektil yang mengarah ke wilayah berpenduduk.Di tingkat menengah, Israel mengoperasikan David's Sling, hasil pengembangan bersama dengan Amerika Serikat.
Sistem ini dirancang untuk menghadapi rudal balistik jarak pendek, roket kaliber besar, dan rudal jelajah, dengan jangkauan intersepsi antara 40 hingga 300 km.Rusia memiliki lini sistem pertahanan udara jarak menengah hingga jauh seperti S-300 dan S-200. S-200 merupakan sistem generasi lama yang masih digunakan di sejumlah negara, sementara S-300 menawarkan kemampuan lebih maju untuk menghadapi pesawat, UAV, serta rudal jelajah dan balistik terbatas.Generasi lebih mutakhir adalah S-400 Triumf, sistem pertahanan udara jarak jauh Rusia yang mampu menargetkan pesawat, drone, dan rudal jelajah, serta memiliki kemampuan pertahanan terhadap rudal balistik fase terminal. Sistem ini kerap dibandingkan dengan Patriot milik AS.Sementara itu, Amerika Serikat juga mengoperasikan sistem laut Aegis Ballistic Missile Defense (BMD).
Berbasis di kapal perang, Aegis menggunakan radar SPY-1 dan rudal Standard Missile-3 atau SM-6 untuk mencegat rudal balistik pada fase tengah atau akhir penerbangan.
Berbeda dengan sistem darat, Aegis menawarkan fleksibilitas tinggi karena dapat digerakkan ke berbagai kawasan maritim strategis.Di tengah meningkatnya ancaman lintas udara, sistem-sistem ini menjadi elemen kunci dalam menjaga stabilitas dan menahan eskalasi konflik di kawasan yang rawan gejolak. (DK)