Perang Iran picu resiko aksi jual besar di pasar kripto

Rabu, 04 Maret 2026

image

JAKARTA - Ketegangan yang kembali meningkat di sekitar Selat Hormuz memaksa pelaku pasar kripto untuk tak hanya fokus pada fundamental blockchain, tetapi juga mencermati risiko makro global.Sekitar 20% pasokan minyak dunia melintas setiap hari melalui jalur laut sempit antara Iran dan Oman tersebut. Meski belum ada penutupan total, aktivitas militer yang meningkat telah mendorong premi asuransi risiko perang melonjak tajam.Seperti dikutip Beincrypto, premi untuk kapal tanker minyak naik lebih dari 50%. Biaya asuransi untuk kapal senilai US$100 juta juga meningkat dari sekitar US$250.000 menjadi US$375.000 per pelayaran.Lonjakan risiko pengiriman ini saja, bahkan tanpa blokade resmi, cukup memicu kekhawatiran gangguan pasokan. Sejumlah analis memperkirakan harga minyak mentah bisa melesat ke kisaran US$120–US$130 per barel jika gangguan berlangsung lama.Dampaknya bagi pasar kripto jauh melampaui sektor energi.Lonjakan minyak sebesar itu berpotensi kembali memicu ekspektasi inflasi, tepat ketika pasar sebelumnya bersiap menghadapi pelonggaran kebijakan moneter.

Harga minyak yang lebih tinggi akan mendorong kenaikan biaya transportasi, manufaktur, dan barang konsumsi, sehingga memberi tekanan tambahan pada inflasi global.Jika ekspektasi inflasi naik, bank sentral, termasuk Federal Reserve AS, bisa saja menunda atau mengurangi rencana pemangkasan suku bunga. Penyesuaian ekspektasi tersebut berpotensi mengerek imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury).Kenaikan yield memperketat likuiditas global. Ketika obligasi pemerintah menawarkan imbal hasil lebih menarik, modal cenderung berpindah dari aset spekulatif.

Triliunan dolar dana sensitif suku bunga di pasar obligasi dan saham bisa mengalami penyesuaian ulang jika yield naik signifikan akibat kekhawatiran inflasi.Secara historis, Bitcoin kerap diperdagangkan sebagai aset berbeta tinggi terhadap likuiditas selama periode pengetatan moneter.

Saat yield riil meningkat, aset digital biasanya tertekan karena leverage berkurang dan biaya pendanaan naik.Dengan kata lain, kripto tidak memerlukan bencana geopolitik besar untuk jatuh. Cukup dengan likuiditas yang mengetat.Selain itu, muncul pula spekulasi tentang potensi gangguan hashrate Bitcoin jika infrastruktur energi di Iran, yang disebut sebagai salah satu pusat penambangan berbiaya rendah, terdampak konflik.

Meski masih bersifat dugaan, narasi ini menambah ketidakpastian terhadap dinamika suplai dan stabilitas jaringan.Struktur pasar derivatif kripto juga menambah kerentanan. Leverage cenderung meningkat saat kondisi tenang, sehingga guncangan makro mendadak dapat memicu likuidasi berantai.Jika yield Treasury melonjak seiring kenaikan minyak, posisi leverage pada Bitcoin dan altcoin bisa terurai dengan cepat. Aset berisiko tinggi, termasuk saham small cap, teknologi bertumbuh tinggi, dan kripto, biasanya menjadi yang pertama tertekan ketika likuiditas mengetat.Berbeda dengan pasar tradisional, kripto diperdagangkan 24 jam sehari, sehingga reaksi bisa terjadi seketika dan lebih ekstrem.Karena itu, pelaku pasar kini memantau pergerakan harga minyak dan obligasi sebagai indikator utama.

Jika ketegangan mereda, harga minyak bisa stabil dan selera risiko pulih. Namun jika gangguan berlanjut, guncangan energi ini berpotensi berubah menjadi tekanan likuiditas yang lebih luas. (DK)