Minyak melonjak, pasar obligasi AS dilanda ketidakpastian

Rabu, 04 Maret 2026

image

ORLANDO - Surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasuries) baru saja mencatat kinerja bulanan terbaik dalam setahun.

Seperti dikutip Reuters, serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada Sabtu, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, menjadi eskalasi dramatis di kawasan.

Ketegangan yang sudah meningkat sebelumnya telah mengangkat harga minyak Brent di atas US$70 per barel, sekaligus mendorong minat terhadap obligasi AS dan menekan imbal hasil tenor 10 tahun ke bawah 4%.

Pada perdagangan awal Senin, pergerakan itu semakin tajam. Harga minyak melonjak hingga 14%, menembus US$80 per barel, dipicu kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan produsen utama dunia.

Sementara itu, yield obligasi 10 tahun sempat turun mendekati 3,90%, level terendah sejak April.

Namun euforia pembelian obligasi mulai mereda, terutama di tenor pendek. Yield obligasi dua tahun bahkan berbalik naik sekitar 6 basis poin.

Dilema investor kini jelas, membeli obligasi sebagai lindung nilai di tengah gejolak geopolitik dan potensi pelemahan aset berisiko, atau justru menjualnya karena lonjakan harga minyak berisiko memicu inflasi dan memaksa Federal Reserve menahan atau bahkan menaikkan suku bunga.Respons awal pasar adalah mencari perlindungan. Bursa saham global melemah, dengan indeks utama Asia dan Eropa turun 1–2% pada Senin, sementara obligasi pemerintah menjadi buruan.Kekhawatiran itu beralasan. Menurut estimasi analis Mizuho, kenaikan harga minyak US$10 per barel yang berkelanjutan dapat memangkas pertumbuhan ekonomi sekitar 10–20 basis poin dalam setahun.

Harga minyak naik sekitar US$20 dalam enam pekan terakhir, dan bukan tidak mungkin menembus US$100 per barel. Jika bertahan jauh di atas level itu, dampaknya terhadap ekonomi global bisa signifikan.Di sisi lain, lonjakan minyak bersifat inflasioner. Rabobank mencatat dampaknya serupa dengan saat Rusia menginvasi Ukraina. Para ekonom memperkirakan kenaikan harga minyak US$10 dapat menambah inflasi tahunan AS hingga 0,2 poin persentase.Angka itu mungkin terdengar kecil, tetapi inflasi pilihan The Fed saat ini sudah berada di kisaran 3% dan cenderung naik. Setiap tambahan tekanan harga menjadi krusial.Jika minyak bertahan di kisaran US$100–US$130 per barel, analis memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga The Fed akan sirna, bahkan bisa memicu siklus kenaikan suku bunga ringan.Tekanan harga produsen Januari yang dirilis pekan lalu juga jauh lebih tinggi dari perkiraan, memperkuat sinyal bahwa tekanan inflasi kembali menguat. Efek dasar harga minyak yang sebelumnya menekan inflasi kini berbalik menjadi pendorong kenaikan.Pada awal Januari, harga Brent hampir 30% lebih murah dibandingkan setahun sebelumnya. Kini, harganya sekitar 13% lebih mahal dari posisi 12 bulan lalu — perubahan signifikan dalam model inflasi yang pasti menjadi perhatian serius pejabat The Fed.Dengan energi dan bahan bakar menyumbang lebih dari 9% bobot indeks harga konsumen (CPI) AS, minyak di level US$100 per barel berpotensi mendorong kenaikan CPI 0,8–1,5% jika sepenuhnya tercermin pada harga bensin.Meski harga minyak dan obligasi telah mundur dari puncaknya pada Senin pagi, konflik di Timur Tengah masih sangat dinamis dan berpotensi meluas. Sentimen pasar pun dapat berubah dengan cepat, membuat investor obligasi terus berada dalam ketidakpastian antara risiko perlambatan ekonomi dan ancaman inflasi. (DK)