Bos Goldman Sachs: Saya kaget, pasar ternyata jinak respon Perang Iran

Rabu, 04 Maret 2026

image

JAKARTA - Ketua Goldman Sachs Group Inc. David Solomon menilai reaksi pasar keuangan terhadap konflik Timur Tengah masih relatif terkendali.

Ia mengaku terkejut melihat respons yang dinilainya “jinak”, meski ketidakpastian geopolitik masih tinggi.

“Sangat sulit untuk berspekulasi karena ada begitu banyak hal yang belum diketahui saat ini,” kata Solomon dalam Australian Financial Review Business Summit di Sydney, Rabu.

Ia menambahkan investor tengah mencermati apakah konflik akan berlangsung lama dan mulai memukul konsumsi. “Saya melihat reaksi pasar dan saya justru terkejut,” ujarnya. “Reaksi pasar terbilang jinak.”

Dikutip bloomberg (04/3), jaminan Amerika Serikat untuk menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz membantu meredakan kekhawatiran pasar. Namun eskalasi terus berlangsung. Israel kembali melancarkan serangan ke Teheran, sementara Iran menembakkan rudal ke Qatar, Bahrain, dan Oman.

Indeks S&P 500 turun kurang dari 1% pada awal pekan, ditopang saham teknologi berkapitalisasi besar. Sebaliknya, saham Eropa dan pasar berkembang lebih tertekan akibat risiko kenaikan harga energi. Di Asia, MSCI Asia Pacific Index anjlok 3,2%, sedangkan Kospi mendekati fase koreksi.

Instrumen lindung nilai bergerak terbatas. Obligasi pemerintah AS melemah karena kekhawatiran inflasi akibat lonjakan energi yang dapat menunda pemangkasan suku bunga. Dolar AS menguat setelah periode pelemahan panjang. Solomon mengatakan kenaikan VIX Index sejalan dengan peningkatan risiko.

“Butuh beberapa pekan bagi pasar untuk benar-benar mencerna implikasinya,” kata Solomon. Harga minyak menjadi fokus utama. Minyak acuan Brent naik di atas US$82 per barel setelah melonjak sekitar 12% dalam dua hari, kenaikan terbesar sejak 2020.

Solomon juga menyoroti gejolak di pasar kredit swasta senilai US$1,8 triliun. Meski ada “sejumlah kecil” masalah spesifik, ia menilai belum terlihat pelemahan kualitas kredit secara luas. “Jika melihat kinerja kredit yang mendasari di banyak portofolio tersebut, hingga saat ini belum terlihat penurunan yang meluas,” ujarnya.

Ia menambahkan ekonomi AS masih solid, sehingga risiko kredit berlebihan belum terlihat jelas. “Ketika siklus kredit terjadi, atau terjadi perlambatan, atau resesi, Anda akan memiliki visibilitas lebih besar terhadap area-area di mana standar pinjaman melemah.”(DH)