Michael Burry ragukan efektivitas buyback US$112,5 miliar saham Nvidia
Senin, 24 November 2025

JAKARTA – Investor legendaris “Big Short” Michael Burry mempertanyakan strategi alokasi modal Nvidia Corp. (NASDAQ: NVDA), terutama terkait program pembelian kembali saham (buyback) yang agresif dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Burry, US$112,5 miliar yang dikeluarkan Nvidia untuk buyback sejak 2018 tidak benar-benar meningkatkan nilai pemegang saham, karena tidak menurunkan jumlah saham yang beredar.
Dalam unggahan di akun X, Burry menyoroti ketidaksesuaian antara besarnya buyback dan justru meningkatnya jumlah saham beredar. Ia mencatat bahwa Nvidia mengeluarkan US$20,5 miliar untuk kompensasi berbasis saham (stock-based compensation/SBC) sejak 2018, merujuk pada data finance.yahoo.com.
Padahal dalam periode yang sama, Nvidia membukukan laba bersih US$205 miliar dan arus kas bebas US$188 miliar.
Burry menilai buyback Nvidia pada dasarnya hanya digunakan untuk mengimbangi “dilusi saham” akibat SBC, bukan mengurangi saham beredar secara nyata.
“Perusahaan membeli kembali US$112,5 miliar saham, tapi jumlah saham beredar malah bertambah 47 juta. Biaya sebenarnya dari dilusi SBC itu US$112,5 miliar, dan itu mengurangi pendapatan pemilik sebesar 50%,” tulis Burry.
[[ Secara sederhana, yang dimaksud Burry adalah: ketika Nvidia memberikan saham atau opsi saham kepada karyawan dan eksekutif, jumlah saham perusahaan bertambah. Pada saat yang sama, porsi kepemilikan investor lama otomatis mengecil. ]]
Menurut Burry, buyback Nvidia selama ini hanya berfungsi “menambal” efek ini, bukan menciptakan nilai baru bagi pemegang saham.
Ia menekankan bahwa pendekatan tersebut mendistorsi pandangan terhadap “owner’s earnings”, sehingga kinerja Nvidia terlihat kurang menguntungkan bila dilihat dari perspektif pemilik bisnis jangka panjang.
Kritik ini muncul ketika Nvidia semakin mendominasi industri AI dan harga sahamnya terus menguat.
Laporan kuartal ketiga menunjukkan pendapatan rekor US$57 miliar, tumbuh 62% dibandingkan tahun sebelumnya.
CEO Jensen Huang menegaskan bahwa “AI akan menyebar ke mana-mana,” didorong permintaan sangat tinggi untuk GPU Blackwell dan Rubin. Nvidia juga memproyeksikan potensi pendapatan US$500 miliar dari arsitektur ini hingga akhir 2026.
CFO Colette Kress menambahkan bahwa perusahaan tetap menjaga neraca keuangan yang kuat untuk mendukung ekspansi dan keamanan rantai pasok.
Huang juga menegaskan bahwa Nvidia akan melanjutkan program buyback serta memperkuat investasi strategis, termasuk kemitraan dengan OpenAI dan Anthropic untuk memperluas ekosistem CUDA.
Saham Nvidia mengungguli pasar tahun ini, naik 34,86% YTD, dibandingkan 17,03% pada Nasdaq Composite dan 17,47% pada Nasdaq 100.
Pada perdagangan Rabu, saham NVDA ditutup naik 2,85% di US$186,52, lalu melompat 5,08% dalam sesi after-hours.
Dalam setahun terakhir, saham Nvidia naik 27,85%, dengan tren menengah-panjang yang tetap positif meski tren jangka pendek mulai melemah. (DK)