Manuver Prajogo Pangestu di SSIA, genggam saham via TPIA dan PTRO
Rabu, 04 Maret 2026

JAKARTA – Prajogo Pangestu terpantau masih memegang saham PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), emiten pengembang real estate dan kawasan industri di Subang, melalui dua perusahaan terbuka.
Berdasarkan data kepemilikan saham di atas 1% yang dirilis Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (3/3) kemarin, ada dua perusahaan milik Prajogo Pangestu yang masuk sebagai pemegang saham SSIA.
Keduanya adalah PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) dengan porsi kepemilikan 4,88% dan PT Petrosea Tbk (PTRO) yang memiliki 1,49% saham.
Sebagai catatan, pemilik manfaat akhir dari saham TPIA dan PTRO saat ini adalah Prajogo Pangestu.
IDNFinancials.com telah melaporkan manuver salah satu orang terkaya di Indonesia ini, yang mengumpulkan 6,05% saham SSIA sepanjang Maret-Juli 2025 melalui TPIA. Namun nama TPIA tidak lagi muncul sebagai pemegang saham SSIA dengan kepemilikan di atas 5% sejak Agustus 2025.
Menyusul akumulasi tersebut, Grup Djarum ikut mengakumulasi saham SSIA dalam dua bulan beruntun, hingga memiliki 10,24% saham melalui PT Dwimuria Investama Andalan.
Tak ketinggalan, nama PT Hennan Putihrai Asset Management juga muncul dalam perebutan saham SSIA. Perusahaan pengelola aset yang dikenal dekat dengan Prajogo Pangestu ini, mengakumulasi saham SSIA sejak Juli 2025 dan kini telah menguasai lebih dari 10% saham.
Namun kendaraan investasi Grup Djarum, yaitu Dwimuria Investama, kini memimpin sebagai pemegang saham terbesar SSIA dengan kepemilikan 10,24%.
Berikutnya disusul Henan Putihai Asset Management di peringkat kedua dengan kepemilikan 10,04% saham, Arman Investments Utama milik keluarga Suariadjaja memiliki 8,52%, Interpid Investment Limited 8,20%, Persada Capital milik Arini Subianto 7,85%, serta Prajogo Pangestu lewat TPIA dan PTRO memiliki 6,37%.
Menurut data IDNFinancials.com, harga saham SSIA sempat melesat hampir 100% setelah akumulasi saham yang dilakukan oleh sejumlah konglomerat tersebut. Namun harga sahamnya telah turun lebih dari 30% sejak awal tahun ini, serta turun sekitar 63% dari puncaknya pada Juli 2025 lalu. (KR)