CIA persenjatai etnis Kurdi di Irak untuk picu pemberontakan di Iran
Kamis, 05 Maret 2026
WASHINGTON – Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) dilaporkan tengah berupaya mempersenjatai pasukan Kurdi dengan tujuan memicu pemberontakan rakyat secara besar-besaran di Iran.
Seperti dikutip edition.cnn.com (03/03/2026), pemerintahan Presiden Donald Trump saat ini sedang melakukan diskusi aktif dengan kelompok oposisi Iran dan para pemimpin Kurdi di Irak terkait penyediaan dukungan militer tersebut.
Menurut seorang pejabat senior Kurdi Iran, kelompok oposisi bersenjata ini diperkirakan akan melancarkan operasi darat di wilayah barat Iran dalam beberapa hari ke depan dengan harapan mendapat dukungan penuh dari AS dan Israel.
Langkah agresif ini mulai terlihat jelas setelah Presiden Trump melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Partai Demokratik Kurdistan Iran (KDPI), Mustafa Hijri, pada hari Selasa (3/3), serta berkoordinasi dengan para pemimpin Kurdi Irak pada hari Minggu sebelumnya.
Seorang sumber menyebutkan bahwa taktik utama dari operasi ini adalah menggunakan pasukan bersenjata Kurdi untuk memancing dan mengikat pasukan keamanan Iran.
Strategi ini dirancang agar warga sipil Iran di kota-kota besar dapat turun ke jalan melakukan protes tanpa risiko dibantai seperti yang terjadi pada kerusuhan Januari lalu.
Untuk memuluskan rencana ini, militer Israel dilaporkan telah mengintensifkan serangan ke pos-pos militer Iran di perbatasan Irak guna membuka jalan bagi masuknya pasukan Kurdi.
Meski demikian, rencana ambisius Trump ini memicu sejumlah kekhawatiran geopolitik. Secara demografis, saat ini terdapat sekitar 25 hingga 30 juta etnis Kurdi yang hidup tersebar melintasi sebagian wilayah Turki, Irak, Iran, Suriah, dan Armenia.
Mantan pejabat senior Departemen Luar Negeri AS, Jen Gavito, memperingatkan bahwa mempersenjatai milisi ini berpotensi merusak kedaulatan Irak dan memberdayakan kelompok bersenjata tanpa akuntabilitas yang jelas.
Selain itu, laporan intelijen AS secara konsisten menilai bahwa faksi-faksi Kurdi di Iran saat ini masih terpecah belah, memiliki perbedaan ideologi, dan tidak memiliki cukup sumber daya untuk menyukseskan pemberontakan tanpa dukungan ekstensif.
Dinamika ini diperparah oleh rekam jejak AS yang kerap meninggalkan sekutu Kurdi mereka di Timur Tengah, sehingga pihak Kurdi kini menuntut jaminan politik yang konkret dari Washington sebelum berkomitmen penuh dalam upaya perlawanan tersebut.
>> Etnis Terbesar Tanpa Negara
Kurdi adalah kelompok etnis yang mendiami kawasan pegunungan di Timur Tengah yang secara historis dikenal sebagai wilayah Kurdistan. Kawasan ini tidak membentuk negara berdaulat dan terbagi ke dalam beberapa negara modern, yakni Turki, Irak, Iran, Suriah, serta sebagian kecil Armenia. Identitas Kurdi terutama dibangun atas dasar kesamaan bahasa, budaya, dan sejarah.
Secara demografis, saat ini terdapat sekitar 25 hingga 30 juta etnis Kurdi yang hidup tersebar di wilayah Turki, Irak, Iran, Suriah, dan Armenia, menjadikan mereka salah satu kelompok etnis terbesar di dunia tanpa negara sendiri. Bahasa Kurdi memiliki beberapa dialek utama, seperti Kurmanji dan Sorani, yang termasuk dalam rumpun bahasa Iran barat.
Dalam konteks politik, posisi masyarakat Kurdi berbeda-beda di tiap negara. Di Irak, Kurdi memiliki wilayah otonom dengan pemerintahan daerah sendiri, sementara di negara lain mereka hidup sebagai kelompok etnis minoritas dengan tingkat representasi dan kebijakan yang ditentukan oleh pemerintah pusat masing-masing. Hingga kini, isu Kurdi tetap menjadi salah satu faktor penting dalam dinamika sosial dan politik kawasan Timur Tengah. (SF)