Goldman Sach naikkan proyeksi harga minyak ke US$100

Kamis, 05 Maret 2026

image

JAKARTA - Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak, di tengah gangguan pasokan dari Timur Tengah, serta turunnya arus pengiriman lewat Selat Hormuz.

Revisi dilakukan setelah harga Brent naik sekitar 34% sejak awal tahun ke kisaran US$82 per barel.

Penutupan di Selat Hormuz, kerusakan infrastruktur energi, serta kemacetan penyimpanan menekan pasokan. Irak bahkan memangkas produksi hampir 1,5 juta barel per hari akibat keterbatasan kapasitas.

Dikutip investing, Goldman memperkirakan Brent bergerak di kisaran pertengahan US$80 per barel pada Maret. Bank invetasi  tersebut juga menaikkan proyeksi rata-rata harga brent kuartal II 2026 sebesar US$10 menjadi US$76 per barel, sementara proyeksi harga minyak WTI dinaikkan US$9 menjadi US$71 per barel.

Revisi ini berdasarkan asumsi gangguan pasokan jangka pendek. Goldman memperkirakan ekspor melalui Selat Hormuz turun ke sekitar 15% dari level normal selama lima hari, lalu pulih ke 70% dalam dua pekan, sebelum kembali normal dalam dua pekan berikutnya.

“Kami memperkirakan sekitar 200 juta barel minyak mentah Timur Tengah mengalami kehilangan produksi dan penarikan besar-besaran, dalam persediaan komersial OECD pada bulan Maret,” tulis analis Goldman yang dipimpin Daan Struyven.

Persediaan komersial OECD diperkirakan turun 76 juta barel secara bulanan, berbalik dari asumsi sebelumnya kenaikan 10 juta barel.

Goldman juga menilai faktor geopolitik masih menopang harga. “Ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan, terkait Iran dan Rusia-Ukraina, akan terus mendukung premi risiko pada kuartal kedua tahun 2026.”

Untuk jangka lebih panjang, harga minyak brent diproyeksikan rata-rata US$66 pada kuartal IV 2026 dan US$70 pada 2027. Sedangkan harga minyak WTI diperkirakan masing-masing US$62 dan US$66 pada periode yang sama.

Meski demikian, Goldman tetap melihat harga turun ke sekitar US$66 pada akhir 2026, seiring meredanya premi risiko dan pulihnya persediaan. Namun risiko masih condong ke atas, terutama jika gangguan ekspor di Hormuz berlangsung lebih lama atau terjadi kerusakan fasilitas produksi.

Jika ekspor tetap tertekan lima pekan berikutnya, harga minyak brent berpotensi naik hingga US$100 per barel. (DH/KR)