Nomura: Thailand paling rentan terdampak penutupan Selat Hormuz
Kamis, 05 Maret 2026

BANGKOK – Keputusan Iran untuk menutup Selat Hormuz dipastikan akan memicu krisis energi yang merusak perekonomian di kawasan Asia.
Seperti dilaporkan nationthailand.com (03/03/2026) yang mengutip analisis CNBC, Thailand kini disebut sebagai salah satu negara di Asia yang paling rentan dan akan menerima pukulan ekonomi terberat akibat lonjakan tajam harga minyak global.
Ancaman pemblokiran ini semakin nyata setelah komandan senior Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa kapal mana pun yang mencoba melintasi jalur perairan tersebut akan langsung diserang.
Berdasarkan analisis Nomura, posisi Thailand sangat rentan karena impor minyak bersih negara tersebut mencapai 4,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB), yang merupakan persentase tertinggi di kawasan ASEAN.
Nomura memperkirakan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar 10% akan memperburuk neraca transaksi berjalan Thailand sekitar 0,5% dari PDB.
Kekhawatiran ini sangat beralasan mengingat harga minyak mentah Brent telah melonjak lebih dari 10% sejak konflik meletus dan diperdagangkan di kisaran US$81 per barel pada hari Selasa.
Jika penutupan selat ini berlarut-larut, sejumlah analis memprediksi harga minyak bisa meroket hingga menembus level US$100 per barel.
Sebagai jantung perdagangan energi global, Selat Hormuz menampung aliran sekitar 13 juta barel minyak mentah per hari pada tahun 2025, atau setara dengan 31% dari total aliran minyak mentah lintas laut dunia.
Lebih dari itu, sekitar 20% ekspor gas alam cair (LNG) global melewati selat ini, di mana sebagian besar pasokannya terikat dengan Qatar. Aliran energi ini dipastikan semakin tersendat setelah Qatar terpaksa menghentikan sementara produksi LNG-nya akibat serangan drone Iran yang menghantam fasilitas industri di Ras Laffan dan Mesaieed.
Krisis penutupan selat ini turut menebar ancaman ke seluruh penjuru Asia lainnya. Nomura mengidentifikasi India, Korea Selatan, dan Filipina sebagai negara yang sangat rentan akibat tingginya ketergantungan mereka pada energi impor.
Kawasan Asia Selatan bahkan diprediksi menghadapi guncangan LNG yang lebih cepat, mengingat 99% impor LNG Pakistan dan 72% impor Bangladesh berasal dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Bagi India, situasi ini akan memberikan pukulan ganda berupa biaya impor minyak mentah yang lebih tinggi sekaligus lonjakan harga LNG.
Sementara itu, Jepang dan Korea Selatan yang masing-masing bergantung 75% dan 70% pada minyak Timur Tengah dilaporkan hanya memiliki cadangan penyangga LNG untuk 2 hingga 4 minggu.
China disebut berada dalam posisi jangka pendek yang lebih tangguh karena memiliki lebih dari 7,6 juta ton LNG di fasilitas penyimpanannya. Di tengah kepanikan mayoritas negara Asia, Malaysia justru menjadi pengecualian; statusnya sebagai pengekspor energi memungkinkan pemerintahnya untuk meraup keuntungan pendapatan dari lonjakan harga minyak global ini. (SF)