Drone Iran ancam lumpuhkan Selat Hormuz berbulan-bulan
Kamis, 05 Maret 2026
JAKARTA - Serangan drone Iran berpotensi mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz selama berbulan-bulan, meski daya tahan stok rudal Teheran masih belum dapat dipastikan.Hal ini diungkap sejumlah sumber intelijen dan analis militer di tengah eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.Sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Sabtu lalu, Teheran telah meluncurkan ratusan rudal dan lebih dari 1.000 drone ke negara-negara Teluk yang bersekutu dengan Washington.Seperti dikutip Reuters, sebagian besar berhasil dicegat sistem pertahanan udara, namun sejumlah bangunan perumahan, fasilitas komersial, infrastruktur, serta pangkalan militer AS tetap mengalami kerusakan.Iran dikenal sebagai salah satu produsen drone utama di kawasan.Menurut lembaga riset Inggris, Centre for Information Resilience (CIR), kapasitas produksi drone Iran diperkirakan mencapai sekitar 10.000 unit per bulan.Sebaliknya, jumlah stok rudal Iran masih menjadi perdebatan. Militer Israel memperkirakan sekitar 2.500 unit, sementara analis lain menyebut bisa mencapai 6.000 unit.Ketersediaan persenjataan ini dinilai menjadi faktor kunci dalam menentukan durasi konflik.Salah satu tujuan utama Iran adalah menutup Selat Hormuz, jalur sempit antara Iran dan Oman yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia.Setelah enam kapal menjadi sasaran serangan Iran, aktivitas pelayaran di jalur vital tersebut nyaris terhenti.Lonjakan harga energi pun tak terhindarkan. Harga minyak Brent naik sekitar 12% pekan ini, sementara harga gas alam acuan Eropa melonjak sekitar 50%.Sejumlah analis menilai stok rudal strategis Iran menjadi titik lemah.Rusia dinilai sulit memasok ulang karena tekanan perang di Ukraina, sementara China kemungkinan berhati-hati agar tidak merusak hubungan dengan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan lainnya.Selain itu, stok rudal Iran diyakini berkurang karena sebelumnya dipasok ke Hizbullah di Lebanon dan kelompok Houthi di Yaman.Persediaan juga sempat terkuras dalam perang 12 hari dengan Israel pada Juni lalu, meski sebagian telah dipulihkan.Jumlah peluncur rudal juga disebut menyusut setidaknya setengahnya dalam setahun terakhir akibat serangan Israel dan AS.Meski demikian, Iran diperkirakan masih mampu mempertahankan serangan melalui drone.Drone generasi terbaru Shahed-136 memiliki jangkauan 700–1.000 kilometer, cukup untuk menjangkau seluruh pesisir selatan Teluk dari daratan atau kapal Iran.Sebagian drone diproduksi di fasilitas dual-use (sipil dan militer), dan fasilitas lain dapat dialihfungsikan untuk meningkatkan produksi.Sejak konflik pecah, 65 drone dilaporkan berhasil menembus pertahanan udara Uni Emirat Arab.Beberapa di antaranya menghantam pusat data Amazon, Bandara Internasional Dubai, dan hotel Fairmont.Bahrain juga mengalami kerusakan infrastruktur, termasuk pangkalan angkatan laut AS dan gedung bertingkat yang berisi hotel serta apartemen.Jika stok rudal dan drone mulai menipis, Iran masih memiliki opsi menggunakan ranjau laut.Menurut firma intelijen maritim Dryad Global, Iran memiliki sekitar 5.000 hingga 6.000 ranjau laut.Ranjau tersebut dapat dipasang di dasar laut, digerakkan roket, atau dibiarkan hanyut hingga meledak saat bersentuhan dengan kapal.Hingga kini belum ada indikasi ranjau telah ditebar di Selat Hormuz.Namun para analis memperingatkan, jika ranjau laut dipasang, proses pembersihannya bisa memakan waktu lama dan berpotensi menyebabkan gangguan pelayaran selama berbulan-bulan.Pelaku pasar energi kini bersiap menghadapi potensi lonjakan harga lanjutan seiring ketidakpastian durasi gangguan di jalur vital tersebut. (DK)