Harga melonjak, pasokan aluminium Timur Tengah terganggu
Kamis, 05 Maret 2026

JAKARTA - Gangguan pasokan aluminium global kian memburuk setelah pengiriman dari Bahrain terhenti dan smelter di Qatar mulai ditutup, menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah.
Perusahaan Aluminium Bahrain (Alba), operator salah satu smelter terbesar di dunia, pada Rabu memperingatkan pelanggan bahwa mereka menghentikan pengiriman karena situasi keamanan yang memburuk.
Seperti dikutip Reuters, langkah ini menambah kekhawatiran pasar sehari setelah smelter Qatar, Qatalum, memulai proses penghentian operasi.
Harga aluminium di London Metal Exchange sempat melonjak hingga 5,1% ke US$3.418 per ton, level tertinggi sejak April 2022. Secara mingguan, harga sudah naik sekitar 9% setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran akhir pekan lalu.
Goldman Sachs sebelumnya memperkirakan harga bisa menembus US$3.600 per ton jika produksi di kawasan terganggu selama sebulan, mengingat sekitar 8% pasokan global berasal dari wilayah tersebut.
Alba menyatakan force majeure dan memberi tahu pelanggan terkait potensi keterlambatan.
Perusahaan menegaskan fasilitas smelter tidak mengalami kerusakan dan produksi tetap berjalan, namun logam tidak dapat dikirim akibat terhentinya pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital antara Iran dan Oman yang mengangkut sekitar seperlima konsumsi minyak dunia.
Smelter Alba, yang terbesar di luar China, memproduksi 1,62 juta metrik ton aluminium pada 2025.
Sementara itu, Qatalum di Qatar mulai menutup fasilitas berkapasitas 648.000 ton per tahun.
Pemegang sahamnya, Norsk Hydro, juga mengumumkan force majeure kepada pelanggan. Proses penghentian ditargetkan rampung akhir Maret, dengan potensi waktu enam hingga 12 bulan untuk kembali beroperasi penuh.
Lebih dari 5 juta metrik ton aluminium dikirim melalui Selat Hormuz setiap tahun dari Bahrain, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Selain itu, pasokan bahan baku seperti bauksit dan alumina juga melintasi jalur tersebut untuk memasok smelter di kawasan.
Premi aluminium fisik di Eropa naik ke US$436 per ton untuk April, tertinggi dalam tiga setengah tahun, sementara premi di AS melonjak ke rekor US$1,075 per pon. (DK)