Dampak gangguan Selat Hormuz melebar, ekspor buah dan sayur terancam

Kamis, 05 Maret 2026

image

NEW DELHI – Bulan Ramzan dan Paskah biasanya menjadi momen penting bagi eksportir buah dan sayuran ke Asia Barat dan Eropa.

Bahkan, sebagian pelaku usaha menanam komoditas khusus untuk pasar Eropa karena periode Januari hingga April merupakan musim sepi produksi di kawasan tersebut.

Seperti dikutip timesofindia.indiatimes, namun kini, para eksportir harus menghadapi lonjakan biaya dan gangguan logistik.

Danesh Shah, eksportir buah dan sayur asal Pune, mengatakan pengiriman bawang ke Eropa yang sudah dipersiapkan kini terkendala ongkos kirim lebih mahal dan waktu pelayaran yang membengkak menjadi 40–45 hari dari sebelumnya 20–25 hari. Selain itu, sejumlah pelabuhan transshipment juga terdampak.Shah terpaksa menjual pisang yang ditujukan ke pasar Teluk dengan diskon, sementara ia khawatir stok bawang berisiko terbuang sia-sia.Kushal Thakkar dari Kay Bee Exports mengaku mengurangi pembelian spot karena banyak barang dalam perjalanan terdampak, sementara pengiriman udara sangat mahal atau sulit diperoleh. Perusahaannya memasok supermarket di Inggris dan Uni Emirat Arab dengan produk seperti okra, lauki, hingga baby corn.Mayoritas eksportir mengeluhkan tarif pengiriman yang melonjak tajam. Maskapai mengenakan premi tambahan 30–40% untuk pengiriman ke Eropa.

Posisi tawar maskapai meningkat setelah bandara di Asia Barat, yang biasanya menangani hampir separuh trafik ke Eropa, ditutup.Pengiriman laut pun ikut mahal. Wakil Presiden Indian Rice Exporters’ Federation, Dev Garg, menyebut biaya kontainer 20 kaki ke Arab Saudi melonjak hingga US$2.600 hanya dalam 48 jam, setelah perusahaan pelayaran seperti Maersk dan MSC menerapkan surcharge perang sebesar US$2.000.

Bahkan, ongkos ke Afrika naik sekitar 20% karena keterbatasan kapal dan perusahaan pelayaran enggan menambah rute.Asosiasi industri menyarankan anggotanya menarik kembali kargo tujuan Iran dan UEA atau mengalihkannya ke pelabuhan lain di Eropa atau Amerika Serikat.

Untuk barang yang sudah tiba, eksportir diminta berbagi beban biaya dengan pembeli dan ke depan menggunakan skema free-on-board (FOB) guna mengantisipasi fluktuasi biaya angkut dan asuransi. Saat ini diperkirakan sekitar 400 ribu ton beras masih dalam perjalanan.Meski ada pembeli di Eropa yang bersedia membayar lebih mahal demi pasokan pangan, ketidakpastian berkepanjangan dinilai dapat mengganggu kepercayaan peritel global. (DK)