Harga aluminium melonjak, pasokan ke Amerika dan Eropa terancam
Kamis, 05 Maret 2026

JAKARTA -- Harga aluminium di London Metal Exchange (LME) naik sekitar 2% menjadi US$3.259,50 per ton. Premi aluminium fisik di Eropa juga meningkat menjadi US$378 per ton untuk Maret dan US$428 per ton untuk April, level tertinggi dalam tiga setengah tahun terakhir.
Seperti dikutip Reuters, Kamis (5/3), pelaku pasar menilai penghentian produksi di Qatar meningkatkan risiko gangguan pasokan dari kawasan Teluk. Negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) menyumbang sekitar 8% produksi aluminium global tahun lalu.
Analis Logam Utama Kpler, Ben Ayre, memperkirakan impor alumina bulanan rata-rata negara-negara GCC mencapai 680.000 ton. Saat ini hanya sekitar 61.000 ton alumina yang sedang dalam perjalanan menuju smelter di kawasan Teluk. Sementara 57.000 ton lainnya yang menuju Oman tidak perlu melewati Selat Hormuz, yang disebut efektif tertutup bagi pelayaran.
Di sisi lain, hampir 10% persediaan aluminium dalam jaringan gudang LME, atau sekitar 45.325 ton, telah diperintahkan untuk dikeluarkan dari penyimpanan di Port Klang, menurut data bursa. Langkah ini menunjukkan trader mulai menarik logam dari gudang untuk memanfaatkan potensi kekurangan pasokan di pasar global.
Kawasan Timur Tengah sendiri merupakan produsen aluminium yang signifikan, menyumbang lebih dari 8% produksi global tahun lalu, menurut International Aluminium Institute (IAI).
Lebih dari 5 juta ton aluminium dikirim melalui Selat Hormuz setiap tahun oleh pabrik peleburan di Bahrain, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Dalam volume besar pula bauksit dan alumina dikirim ke arah sebaliknya untuk memasok kebutuhan pabrik-pabrik tersebut.
Sejauh ini belum ada pabrik yang menjadi target langsung dalam eskalasi konflik. Namun Qatar Aluminium, perusahaan patungan antara Norsk Hydro dari Norwegia dan QatarEnergy, telah menghentikan operasi setelah pasokan listrik terganggu akibat penghentian produksi gas alam cair (LNG) negara tersebut.
>> Dampak bagi Barat
Semakin lama Selat Hormuz terblokade, semakin besar ancaman bagi produsen di Barat. Dalam dua dekade terakhir, Timur Tengah telah berkembang menjadi pusat produksi aluminium besar dengan memanfaatkan cadangan gas yang melimpah sebagai sumber energi bagi proses peleburan yang sangat intensif listrik.
Produksi negara-negara GCC meningkat dari sekitar 2,7 juta ton pada 2010 menjadi 6,2 juta ton tahun lalu, menjadikannya pemasok regional terbesar kedua di luar China.
Dalam beberapa perhitungan, kawasan ini bahkan dapat dianggap sebagai yang terbesar. Data produksi IAI untuk Eropa—yang secara statistik merupakan pusat produksi terbesar di luar China—mencakup sekitar 4 juta ton aluminium Rusia setiap tahun.
Namun aluminium Rusia tidak lagi dapat diimpor ke Amerika Serikat karena sanksi terkait perang Ukraina. Uni Eropa juga tengah menghentikan impor tersebut secara bertahap tahun ini.
Situasi ini membuat produsen GCC menjadi komponen penting dalam pasokan aluminium bagi negara-negara Barat—logam yang digunakan dalam berbagai industri, mulai dari otomotif, konstruksi, hingga kemasan.
Dampak terhadap pembeli di Barat dapat muncul melalui berbagai jalur.
Pabrik peleburan di kawasan Teluk tidak hanya mengekspor aluminium primer, tetapi juga merupakan produsen utama paduan aluminium khusus dan memasok klaster industri lokal yang menghasilkan produk setengah jadi.
Sebagai contoh, Bahrain, yang memiliki smelter berkapasitas 1,5 juta ton, mengekspor lebih dari 1 juta ton paduan aluminium, 500.000 ton produk aluminium, serta 160.000 ton aluminium murni tahun lalu, menurut World Bureau of Metal Statistics berdasarkan data bea cukai resmi.
Ekspor tersebut mengalir ke 70 negara, termasuk dalam jumlah besar ke Eropa dan Amerika Serikat.
Keragaman produk dan tujuan ekspor ini berarti bahwa setiap gangguan berkepanjangan terhadap produksi regional atau arus ekspor akan berdampak luas pada berbagai negara serta berbagai tahapan dalam rantai industri aluminium.
>> Pasar dalam Kondisi Rentan
Pasar aluminium global saat ini berada dalam kondisi yang sangat rentan terhadap gangguan pasokan.
China, produsen terbesar dunia, mengalami perlambatan pertumbuhan produksi dan ekspor karena sektor peleburan mereka mendekati batas kapasitas 45 juta ton yang ditetapkan pemerintah Beijing.
Pembeli di Barat—terutama di Eropa—juga sudah tertekan oleh penghentian impor aluminium Rusia, penutupan pabrik Mozal di Mozambik, serta gangguan produksi di pabrik Grundartangi milik Century Aluminum di Islandia.
Persediaan aluminium di LME, termasuk logam di penyimpanan luar gudang resmi, turun 331.000 ton tahun lalu dan berkurang lagi 84.000 ton sejak awal Januari.
Harga aluminium di LME bahkan sudah mulai naik sebelum krisis Iran memuncak.
Kabar pada Selasa bahwa Qatar Aluminium mungkin menghentikan operasi mendorong harga kontrak tiga bulan naik menjadi US$3.315 per ton, mendekati puncak hampir empat tahun pada Januari sebesar US$3.356 per ton.
>> Harga Listrik Melonjak
Selain potensi guncangan pasokan langsung, pembeli aluminium di Barat juga menghadapi risiko kedua berupa kenaikan harga energi.
Salah satu alasan mengapa produksi aluminium dari negara-negara GCC menjadi sangat penting bagi pasar Barat adalah karena banyak pabrik peleburan di kawasan lain telah tutup akibat mahalnya harga listrik.
Pabrik Mozal di Mozambik—yang selama ini menjadi pemasok utama bagi pasar Eropa—merupakan salah satu contoh.
Eropa sendiri telah kehilangan beberapa pabrik peleburan setelah lonjakan harga energi menyusul invasi Rusia ke Ukraina empat tahun lalu.
Guncangan energi baru menjadi hal terakhir yang diinginkan produsen aluminium Barat.
Bagi para pembeli di Barat, skenario yang paling tidak diharapkan adalah hilangnya pasokan aluminium dari produsen di seberang Selat Hormuz.
Timur Tengah memiliki cadangan gas murah yang membuat biaya listrik di kawasan tersebut relatif rendah. Padahal, proses peleburan aluminium merupakan industri yang sangat intensif energi dan membutuhkan pasokan listrik besar.
Kondisi ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan industri aluminium di kawasan tersebut dalam dua dekade terakhir. Produksi aluminium negara-negara GCC meningkat dari sekitar 2,7 juta ton pada 2010 menjadi 6,2 juta ton tahun lalu, menjadikannya salah satu pusat produksi aluminium terbesar di dunia di luar China. (DH/MT)