Saat yang lain enggan ambil risiko, tanker Yunani tembus Selat Hormuz

Kamis, 05 Maret 2026

image

TEHERAN - Sebagian besar kapal kini enggan mengambil risiko melintasi Strait of Hormuz, terutama untuk pelayaran masuk ke Teluk. Namun satu kapal tanker milik pengusaha pelayaran Yunani terkemuka, George Procopiou, justru menembus jalur tersebut.

Saat ratusan tanker masih tertahan di kawasan Teluk dan menunggu kepastian untuk keluar dari jalur sempit itu, sebuah kapal milik perusahaan Dynacom berhasil masuk dari arah sebaliknya.

Kapal tanker jenis suezmax berbobot 150.000 dwt bernama Pola yang dikendalikan oleh Dynacom Tankers Management terlihat melalui sistem pelacakan AIS mendekati selat tersebut pada Senin malam dan kembali muncul di perairan Sharjah pada Selasa pagi.

Seperti dikutip tradewindsnews, pihak Dynacom yang didukung Procopiou tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait pelayaran tersebut.

Sumber industri menyebut rencana penyewaan tanker suezmax milik Dynacom sempat gagal, namun data dari Clarksons menunjukkan kapal Pola kemudian mendapatkan kontrak lain untuk mengangkut minyak mentah menuju Thailand dan dijadwalkan memuat kargo pada Rabu.

Pelayaran ini terjadi saat banyak kapal tanker menghindari Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelumnya dilalui sekitar 30% pengiriman minyak mentah dunia melalui laut setiap hari sebelum serangan gabungan AS–Israel terhadap Iran akhir pekan lalu yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Perusahaan intelijen maritim Maritime Optima mencatat hanya 21 kapal tanker berada di selat tersebut pada Selasa, sebagian besar berbendera Iran. Angka ini turun tajam dibanding 59 kapal pada Jumat sebelumnya.

Minimnya lalu lintas kapal membuat tarif pengangkutan tanker raksasa jenis VLCC dan suezmax melonjak tajam. Namun pengamat pasar menilai tarif tersebut masih bersifat teoritis karena aktivitas penyewaan kapal hampir tidak ada.

Dengan banyak pasokan minyak dunia tertahan di Teluk, guncangan di pasar energi global semakin kuat dan tekanan meningkat kepada Amerika Serikat untuk membuka kembali jalur Selat Hormuz.

Laporan Bloomberg menyebut United States Navy mulai mengambil kendali di kawasan tersebut, sementara Iran diyakini belum menebar ranjau laut yang dapat memperparah gangguan pelayaran.

Sementara itu, komandan baru Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), Ahmad Vahidi, memperingatkan bahwa pasukannya akan “membakar siapa pun yang mencoba melintas”. Seorang penasihat senior kepada media pemerintah bahkan menyatakan selat tersebut telah ditutup.

Sejak serangan dimulai pada Sabtu, enam kapal dilaporkan diserang, meskipun belum jelas siapa pelakunya.

IRGC mengklaim bertanggung jawab atas dua di antaranya: serangan rudal terhadap tanker 49.800 dwt Stena Imperative milik Stena Bulk yang dikelola Crowley Government Services di Bahrain, serta serangan drone terhadap tanker aspal Athe Nova berbendera Honduras milik perusahaan Dubai Hessonite Ship Management.

Menurut perusahaan pengelola, Athe Nova dalam kondisi aman dan seluruh awak kapal selamat.

Data dari Clarksons menunjukkan lebih dari 3.000 kapal kini terjebak setelah selat tersebut ditutup.

Di antaranya terdapat 112 tanker minyak mentah, termasuk 70 kapal VLCC atau sekitar 8% dari total armada global, serta 195 kapal tanker produk minyak. (DK)