Aksi jual melanda pasar saham dan obligasi AS, minyak melesat lagi
Jumat, 06 Maret 2026

JAKARTA – Pasar saham Amerika Serikat (AS) kembali menghadapi tekanan pada perdagangan Kamis (5/3), begitu pula dengan pasar obligasi yang menghadapi aksi jual di tengah eskalasi perang di kawasan Teluk Persia.
Indeks S&P 500 turun 0,6% hingga penutupan perdagangan, Nasdaq Composite turun 0,3% dan Dow Jones Industrial Average turun paling dalam 1,6%.
Sejumlah indeks itu turun setelah saham-saham terkait industri semikonduktor di AS melemah, menyusul laporan yang menyebut rencana pembatasan distribusi chip kecerdasan buatan di bawah pemerintahan Trump.
Di sisi lain, pasar komoditas diwarnai dengan lonjakan harga minyak mentah saat perang AS-Israel melawan Iran tengah memasuki hari keenam. Minyak mentah WTI naik lebih dari 7% dan mendekati level US$80 per barel pada perdagangan Kamis.
Investor global juga menanti laporan ketenagakerjaan yang akan disampaikan pada Jumat, dengan ekspektasi hasil yang lebih moderat.
“Laporan ketenagakerjaan yang semakin kuat akan semakin baik, mengingat adanya risiko terjadinya inflasi akibat lonjakan harga komoditas terkait energi,” menurut divisi Market Intelligence JP Morgan, yang dipimpin Andrew Tyler.
“Sementara hasil yang lebih lemah akan meningkatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga, namun risiko terjadinya stagflasi tetap ada untuk jangka pendek,” imbuh Tyler, seperti dikutip Bloomberg.
Di pasar surat utang, yield obligasi pemerintah AS untuk tenor 10 tahun naik 3 basis poin ke 4,13%. Sedangkan indeks dolar AS naik 0,4%.
Harga emas di pasar spot kembali menguat 1,3% ke US$5.075,36 per troi ons. Sementara harga bitcoin, yang sering disebut sebagai emas digital, turun 2,8% ke US$71.300,88. (KR)