Cadangan devisa turun jadi US$151,9 miliar, terendah 8 bulan
Jumat, 06 Maret 2026
JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mengumumkan posisi cadangan devisa Indonesia berada di level US$151,9 miliar pada Februari 2026, turun 1,75% dari bulan posisi Januari yang mencapai US$154,6 miliar.
Posisi cadangan devisa Indonesia bahkan menempati level terendah untuk 8 bulan terakhir atau sejak Juni 2025.
Direktur Eksekutif BI, Ramdan Denny Prakoso, menilai penurunan cadangan devisa itu dipengaruhi penerimaan pajak dan jasa, serta penarikan utang luar negeri pemerintah, di tengah kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang menghadapi gejolak di pasar global.
Secara kecukupan, Ramdan menyampaikan cadangan devisa pada akhir Februari 2026 sanggup membiayai kebutuhan impor Indonesia selama 6,1 bulan, atau setara 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” jelas Ramdan.
Dengan data cadangan devisa yang lebih rendah, Ramdan menyampaikan BI tetap optimis ketahanan sektor eksternal tetap baik, didukung aliran modal asing ke Indonesia.
Selain itu, BI akan meningkatkan sinergi dengan pemerintah untuk memperkuat ketahanan eksternal, demi mendukung target pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Menurut data BI, cadangan devisa Indonesia mencapai level terendahnya dalam setahun terakhir pada September 2025, yang berada di level US$149 miliar. Namun posisi cadangan devisa terus membaik hingga mencapai puncaknya pada Desember 2025, dan berbalik melemah sejak Januari 2026. (KR)