Tolak putra Khamenei, Trump ingin tentukan kandidat pemimpin Iran?
Jumat, 06 Maret 2026

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan ingin terlibat dalam proses pemilihan pemimpin tertinggi Iran berikutnya setelah tewasnya Ali Khamenei.
Trump menegaskan bahwa kepemimpinan baru Iran sebaiknya bersikap lebih terbuka terhadap Amerika Serikat.
Dikutip Aljazeera (05/3), dalam wawancara dengan Axios, Trump menolak kemungkinan putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, menjadi penerus.
“Mereka hanya membuang-buang waktu. Putra Khamenei itu orang yang tidak berbobot. Harus dilibatkan dalam penunjukan tersebut,” kata Trump.
Trump mengatakan lebih memilih sosok pemimpin seperti Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, yang menggantikan Nicolás Maduro setelah Maduro ditangkap pasukan AS pada Januari.
Menurut Trump, pendekatan di Venezuela memungkinkan pemerintahan tetap berjalan sambil membuka ruang kerja sama dengan Washington.
Namun analis menilai skenario serupa sulit diterapkan di Iran. Wakil Presiden Eksekutif Trita Parsi dari Quincy Institute for Responsible Statecraft mengatakan Trump pada dasarnya menginginkan kepemimpinan Iran yang mengikuti preferensi kebijakan Washington.
“Ia tidak keberatan jika sosok simbolis memimpin Iran selama orang tersebut mengikuti preferensi kebijakan Trump, seperti yang dilakukan Delcy,” kata Parsi kepada Al Jazeera.
Ia menambahkan, “Tidak tampak bahwa ia akan menemukan sosok tersebut dari dalam sistem Iran yang ada saat ini.”
Situasi Iran juga berbeda dengan Venezuela. Pemerintah Iran saat ini terlibat konflik yang semakin luas dengan Amerika Serikat dan Israel, sementara sistem politik Iran mengharuskan pemimpin tertinggi berasal dari kalangan ulama yang memenuhi syarat keagamaan.
Sejumlah nama yang disebut sebagai kandidat penerus Khamenei antara lain Mojtaba Khamenei, Hassan Khomeini, cucu pemimpin Revolusi Iran 1979, Ruhollah Khomeini serta ulama senior Alireza Arafi.
Pemimpin tertinggi Iran dipilih oleh dewan beranggotakan 88 orang yang dikenal sebagai Assembly of Experts. Pekan ini, Israel dilaporkan menargetkan gedung dewan tersebut di kota suci Qom, meski Iran menyatakan bangunan itu kosong dan belum ada jadwal pemilihan pemimpin baru. (DH)