Holyvolt Swedia akuisisi Wildcat, tantang dominasi baterai China

Jumat, 06 Maret 2026

image

JAKARTA - Perusahaan baterai asal Swedia, Northvolt, mengembangkan teknologi baterai baru yang disebut dapat mengurangi ketergantungan industri energi dan kendaraan listrik Eropa terhadap pasokan bahan baku dari China.

Seperti dikutip Oilprice (5/3), perusahaan tersebut juga mengumumkan akuisisi Wildcat Discovery Technologies, perusahaan inovasi bahan berbasis di Amerika Serikat, dalam kesepakatan senilai US$73 juta.

Nilai transaksi tersebut mencakup kombinasi pembayaran tunai, ekuitas, serta pembayaran berbasis pencapaian. Akuisisi ini ditujukan untuk mempercepat pengembangan baterai generasi berikutnya.

Wildcat dikenal dengan teknologi High Throughput Platform yang mampu mensintesis dan menguji ribuan kombinasi bahan baterai secara simultan. Teknologi ini diklaim dapat mengidentifikasi kimia baterai optimal hingga sepuluh kali lebih cepat dibandingkan metode konvensional.

Integrasi platform tersebut dengan proses manufaktur Holyvolt yang menggunakan teknik pencetakan layar dan bahan berbasis air diharapkan dapat mempercepat proses pengembangan baterai, mulai dari penemuan bahan hingga produksi skala pilot.

“Holyvolt fokus pada pengembangan proses baru untuk membuat baterai lebih bersih dan lebih terjangkau, sementara Wildcat telah mengejar tujuan yang sama melalui inovasi bahan,” ujar Pendiri dan CEO Holyvolt, Mathias Ingvarsson.

Dia menambahkan,  “Bersama-sama, kami membangun apa yang kami yakini sebagai salah satu platform teknologi yang paling menarik untuk masa depan manufaktur baterai.”

Sistem Wildcat menghasilkan dataset bahan berskala terabyte yang dirancang untuk pembelajaran mesin dan kecerdasan buatan. Data tersebut memungkinkan peneliti mengoptimalkan kinerja dan biaya baterai secara lebih cepat.

Kolaborasi kedua perusahaan diharapkan mempercepat pengembangan baterai untuk berbagai sektor, termasuk otomotif, dirgantara, penyimpanan energi, dan elektronik konsumen.

Kesepakatan ini juga mengikuti pendanaan €20 juta yang baru diterima Holyvolt. Langkah tersebut mencerminkan upaya Eropa dan Amerika Utara memperkuat rantai pasokan baterai agar tidak bergantung pada Asia.

Selain meningkatkan efisiensi dan kinerja, kombinasi teknologi kedua perusahaan dinilai berpotensi menekan dampak lingkungan serta biaya produksi. Proses berbasis air milik Holyvolt menggantikan sistem slurry berbasis pelarut, sementara penelitian bahan Wildcat mencakup pengembangan kimia baterai bebas kobalt dan nikel.

Pendiri Wildcat, Prof. Peter Schultz, mengatakan kolaborasi ini dapat mempercepat inovasi di sektor baterai.

“Dengan Holyvolt, kami dapat melakukan untuk baterai apa yang telah dilakukan oleh high throughput dan AI untuk penemuan obat,” ujarnya.

Sebelumnya, seperti dikutip The Guardian, Northvolt juga  sudah mengembangkan teknologi baterai sodium-ion yang tidak bergantung pada lithium, nikel, kobalt, maupun grafit yang selama ini banyak dipasok dari China.

Menurut perusahaan, teknologi tersebut dirancang untuk sistem penyimpanan energi dan berpotensi digunakan pada kendaraan listrik di masa depan, sebagai bagian dari upaya Eropa membangun rantai pasok baterai sendiri dan mengurangi dominasi industri baterai Asia. (DH)