Laba PGAS tergerus 36,5%, penyesuaian aset hulu tekan kinerja 2025
Sabtu, 07 Maret 2026

JAKARTA - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mencatatkan penurunan laba bersih 36,5% pada 2025 menjadi US$215,4 juta dibandingkan tahun sebelumnya. Sejalan dengan itu, laba per saham (earnings per share/EPS) tercatat sebesar US$0,0089.
Berdasarkan laporan keuangan 2025, perseroan membukukan pendapatan sebesar US$3,9 miliar atau meningkat 5% secara tahunan, ditopang kinerja bisnis midstream dan downstream berbasis infrastruktur.
Sepanjang 2025, PGAS mencatat volume niaga gas bumi sebesar 836 BBTUD. Sementara itu, volume transmisi gas bumi meningkat 4% menjadi 1.609 MMSCFD dibandingkan tahun sebelumnya, seiring meningkatnya penyerapan pelanggan.
Kinerja operasional juga didukung segmen infrastruktur LNG. Volume regasifikasi melalui FSRU Lampung dan Terminal Regasifikasi Arun mencapai 254 BBTUD atau tumbuh 17%, yang menopang penyaluran gas untuk sektor industri dan pembangkit listrik. Di segmen transportasi minyak, PGAS mencatat volume penyaluran sebesar 174.811 BOEPD melalui jaringan pipa yang ada.
Sepanjang tahun lalu, perusahaan menambah lebih dari 230 kilometer jaringan pipa distribusi gas serta menjaga keandalan sistem operasi dengan tingkat availability mencapai 98,84%. Kontribusi anak usaha dan afiliasi juga meningkat, antara lain volume pemrosesan LPG sebesar 117 metrik ton per hari atau naik 8%, serta lifting minyak dan gas sebesar 17.519 BOEPD.
Corporate Secretary PGAS, Fajriyah Usman, mengatakan perusahaan terus memastikan keberlanjutan pasokan energi melalui optimalisasi portofolio gas bumi dan LNG.
“Keandalan penyaluran gas bumi bagi pelanggan tetap menjadi prioritas utama PGN. Kami mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur gas dan LNG serta menerapkan pengelolaan volume secara adaptif untuk memastikan keberlanjutan layanan energi kepada pelanggan,” tulis Fajriyah dalam keterangan resmi kepada Bursa Efek Indonesia, Jumat (06/3).
Dalam laporan keuangan 2025, perseroan juga melakukan penyesuaian kewajaran nilai aset pada entitas anak usaha di segmen hulu akibat perubahan asumsi cadangan. Langkah tersebut dilakukan sesuai standar akuntansi dan regulasi migas serta tidak berdampak pada arus kas operasional perusahaan.
PGAS juga mencatat efisiensi biaya. Beban umum dan administrasi turun US$33,3 juta atau sekitar 17% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara kontribusi laba dari entitas patungan meningkat menjadi US$76,4 juta.
Perusahaan membukukan EBITDA sebesar US$971,2 juta serta arus kas operasional positif US$657,1 juta, mencerminkan ketahanan fundamental keuangan di tengah dinamika industri energi.
Fajriyah menambahkan portofolio bisnis PGAS yang terdiversifikasi menjadi salah satu penopang kinerja perseroan.
“Kami konsisten menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan arus kas dan portofolio, termasuk langkah selektif pada proyek prioritas. Strategi ini penting untuk memperkuat ketahanan korporasi dalam menghadapi tantangan ke depan,” katanya.
Ke depan, perseroan akan memperkuat peran dalam mendukung transisi energi nasional melalui pengembangan infrastruktur gas bumi yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Secara neraca, hingga akhir Desember 2025 total aset PGAS tercatat sebesar US$6,23 miliar, turun 2,9% dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar US$6,42 miliar.
Total liabilitas tercatat sebesar US$2,62 miliar atau menurun 4,4% dari US$2,74 miliar pada tahun sebelumnya, sedangkan total ekuitas mencapai US$3,61 miliar atau turun sekitar 1,7% dibandingkan US$3,67 miliar pada akhir 2024.(DH)