Lawan kartel narkoba, Trump siap terjunkan militer AS di Amerika Latin
Minggu, 08 Maret 2026

JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani proklamasi baru yang membuka jalan bagi penggunaan militer AS untuk menargetkan kartel narkoba di berbagai negara Amerika Latin. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi Washington untuk memperluas operasi melawan jaringan narkotika lintas negara di kawasan tersebut.
Menurut laporan Politico (8/3), Trump sebelumnya telah memerintahkan militer AS masuk ke Ekuador pada pekan ini guna menyerang kartel narkoba. Operasi tersebut disebut sebagai langkah awal dari rencana yang berpotensi diperluas ke lebih dari selusin negara di Amerika Latin melalui proklamasi yang ditandatangani pada Sabtu.
Dalam pidato sebelum penandatanganan dokumen tersebut, Trump menyebut kebijakan itu sebagai komitmen untuk menggunakan kekuatan militer mematikan dalam menghancurkan kartel narkoba dan jaringan yang ia sebut sebagai organisasi teroris.
Ia juga memuji “persenjataan luar biasa” milik militer AS dan menegaskan bahwa negara-negara di Amerika Latin hanya perlu mengidentifikasi lokasi para operator kartel agar operasi militer dapat dilakukan.
“Kami membutuhkan bantuan Anda. Anda hanya perlu memberi tahu kami di mana mereka berada,” kata Trump dalam forum Shield of the Americas Summit, dikutip dari Politico (8/3).
Sebanyak 17 negara dilaporkan bergabung dalam upaya tersebut melalui deklarasi keamanan bersama yang disepakati dalam pertemuan dengan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. Beberapa negara yang menandatangani deklarasi keamanan itu bahkan tidak menghadiri pertemuan puncak pada Sabtu.
Inisiatif tersebut berada di bawah payung kerja sama yang dinamai “Americas Counter Cartel Coalition”.
Program ini menjadi bagian dari fokus pemerintahan Trump untuk memperkuat keamanan di kawasan Amerika Latin dan Belahan Bumi Barat.
Kebijakan ini juga bertujuan menekan perdagangan narkoba serta mengendalikan arus migrasi di kawasan Amerika Latin. Selain itu, strategi tersebut diarahkan untuk mengurangi pengaruh China di kawasan, seiring meningkatnya jejak ekonomi dan militer Beijing di sejumlah negara Amerika Latin.
Pendekatan kebijakan luar negeri tersebut sering disebut sebagai “Donroe Doctrine”, yang menekankan pentingnya kawasan Amerika Latin bagi kepentingan keamanan dan geopolitik Amerika Serikat.
Proklamasi yang ditandatangani Trump juga menyerukan koordinasi dengan sekutu di kawasan untuk membangun kekuatan tempur paling efektif guna membongkar jaringan kartel narkoba di Amerika Latin.
Dokumen tersebut juga menegaskan komitmen untuk mencegah pengaruh asing yang dianggap merugikan dari luar Belahan Bumi Barat memperoleh pengaruh lebih besar di kawasan.
Trump dalam kesempatan itu juga menilai Amerika Serikat selama bertahun-tahun terlalu lama mengabaikan kawasan Amerika Latin. Ia mengatakan Washington sebelumnya terlalu fokus pada wilayah lain yang jauh dari kawasan tersebut.
“Saya melihat kawasan kita, jika saya bisa menyebutnya demikian, sebagai sesuatu yang sangat penting. Kawasan ini telah ditinggalkan oleh Amerika Serikat selama bertahun-tahun. Mereka bahkan pergi terlalu jauh ke tempat-tempat yang sangat jauh, ke wilayah-wilayah yang bahkan tidak menginginkan mereka,” ujar Trump.
Sementara itu, Komando Selatan Amerika Serikat sebelumnya mengumumkan bahwa pasukan militer AS telah bergabung dengan aparat keamanan di Ekuador untuk melawan organisasi yang disebut sebagai narco-teroris di negara tersebut.
Operasi militer itu kemudian diikuti oleh serangan terarah pada Jumat yang melibatkan aksi kinetik mematikan terhadap target tertentu, dikutip dari Politico (8/3).
Sejumlah pemimpin negara turut menghadiri acara penandatanganan proklamasi tersebut, termasuk Presiden Ekuador Daniel Noboa, Presiden Argentina Javier Milei, Presiden El Salvador Nayib Bukele, serta presiden terpilih Chile José Antonio Kast. Para pemimpin dari Bolivia, Chile, Kosta Rika, Republik Dominika, Guyana, Honduras, Panama, Paraguay, serta Trinidad dan Tobago juga hadir dalam pertemuan tersebut.
Acara itu juga menandai kemunculan publik pertama Kristi Noem setelah ia diberhentikan dari jabatan Menteri Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat dan kemudian ditunjuk sebagai utusan khusus untuk sebuah inisiatif regional yang dinamai sesuai dengan KTT tersebut.
Ia menghadiri acara tanpa memberikan pidato, sementara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyampaikan sambutan kepada para peserta.
Namun perhatian terhadap pertemuan tersebut sebagian tertutupi oleh konflik yang terjadi di kawasan lain yang kini telah memasuki pekan kedua, yakni perang yang melibatkan Iran.
Setelah menghadiri acara itu secara singkat, Trump meninggalkan Miami untuk terbang ke Delaware guna menghadiri prosesi pemulangan jenazah enam tentara Amerika Serikat yang tewas dalam serangan drone di Kuwait pada awal konflik tersebut.
Ketika ditanya mengenai perang Iran dalam pidatonya, Trump bahkan menyebut konflik tersebut sebagai “15 dari skala 10” dan menilai langkah Amerika Serikat dalam konflik itu sebagai sesuatu yang memberikan manfaat bagi dunia. “Kami telah melakukan kebaikan bagi dunia,” kata Trump, dikutip dari Politico (8/3). (SA)