Krisis Selat Hormuz ancam pasokan belerang produsen nikel Indonesia

Minggu, 08 Maret 2026

image

JAKARTA — Produsen nikel Indonesia berpotensi menghadapi tekanan produksi akibat terganggunya pasokan belerang dari Timur Tengah setelah konflik di kawasan Teluk mengganggu jalur pengiriman global.

Menurut laporan Reuters (8/3), produsen nikel di Indonesia bergantung pada Timur Tengah untuk sekitar 75% pasokan belerang yang digunakan dalam proses produksi. Gangguan pengiriman di kawasan tersebut berisiko memaksa sebagian produsen nikel Indonesia memangkas produksi jika pasokan bahan baku tidak segera pulih.

Belerang merupakan bahan baku utama untuk memproduksi asam sulfat, yang digunakan dalam proses pelindian logam dari bijih pada pemurnian nikel dan pengolahan tembaga. Kondisi ini membuat sejumlah produsen tembaga di Afrika juga berpotensi menghadapi masalah serupa.

Menurut laporan Reuters (8/3), data Survei Geologi Amerika Serikat menunjukkan Timur Tengah menyumbang sekitar 24% dari total produksi belerang global atau sekitar 83,87 juta ton metrik pada tahun lalu.

Namun ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta respons balasan dari Teheran telah memicu gangguan pengiriman di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan penting dunia yang dilalui berbagai komoditas energi dan bahan baku industri.

Indonesia sendiri menghasilkan lebih dari 50% produksi nikel dunia. Analis CRU, Peter Harrisson, mengatakan Indonesia mengimpor sekitar tiga perempat kebutuhan belerangnya dari Timur Tengah, sementara nikel Indonesia sebagian besar digunakan untuk memproduksi baja tahan karat.

Persediaan belerang di fasilitas pemurnian nikel berbasis teknologi high-pressure acid leaching (HPAL) juga relatif terbatas. Dua sumber dari perusahaan pemurnian asal China yang beroperasi di Indonesia menyebutkan stok belerang rata-rata hanya cukup untuk satu hingga dua bulan konsumsi dan mereka menolak disebutkan namanya karena tidak berwenang berbicara secara publik.

Selain itu, biaya belerang telah menjadi komponen besar dalam operasional pabrik HPAL bahkan sebelum konflik meningkat. Menurut laporan Reuters (8/3), analis Project Blue, Marco Martins, mengatakan biaya belerang telah menyumbang sekitar setengah dari biaya operasional fasilitas tersebut akibat lonjakan harga sebelumnya.

Ia menambahkan tanpa alternatif pasokan baru, sejumlah pabrik nikel berpotensi mulai mengurangi produksi mulai bulan depan jika gangguan pasokan belerang terus berlanjut.

Di sisi lain, perebutan pasokan belerang diperkirakan akan semakin ketat karena tidak hanya produsen nikel Indonesia yang membutuhkan bahan baku tersebut. Perusahaan tambang tembaga di Afrika serta produsen pupuk global juga tengah mencari alternatif pasokan selain dari Timur Tengah.

Harrisson mengatakan harga belerang telah mencapai sekitar US$500 per ton sebelum konflik meningkat dan secara indikatif telah naik lagi sekitar 10–15% sejak ketegangan di kawasan Teluk memanas, dikutip dari Reuters (8/3).

Di Afrika bagian selatan, persediaan belerang saat ini sekitar 900.000 ton di gudang diperkirakan hanya cukup untuk beberapa minggu ke depan, menurut sumber logistik yang berbasis di Zambia.

Republik Demokratik Kongo mengimpor sekitar 1,3 juta hingga 1,4 juta ton belerang untuk memproduksi tembaga pada tahun lalu, dengan sebagian besar pasokan berasal dari Timur Tengah, menurut Harrisson.

Asam sulfat juga dapat diproduksi sebagai produk sampingan dari proses peleburan tembaga sehingga perusahaan tambang yang memiliki atau berada dekat dengan fasilitas peleburan setidaknya sebagian akan terlindungi dari potensi kekurangan pasokan.

Direktur negara First Quantum Minerals di Zambia, Anthony Mukutuma, mengatakan operasi tembaga perusahaan tersebut tidak terdampak karena perusahaan memperoleh pasokan asam dari fasilitas peleburan miliknya sendiri, dikutip dari Reuters (8/3).

Namun tidak semua perusahaan tambang memiliki akses ke fasilitas peleburan tersebut dan banyak yang masih bergantung pada pembelian belerang dari pasar global, menurut Martins.

Pendiri Ivanhoe Mines, Robert Friedland, yang bersama Zijin Mining mengoperasikan pabrik asam sulfat berkapasitas 1.200 ton per hari di proyek tembaga Kamoa-Kakula di Kongo, juga memperkirakan harga belerang berpotensi terus meningkat di tengah ketidakpastian pasokan.

Harrisson memperingatkan jika arus kapal terbatas selama lebih dari dua minggu, maka penundaan atau perlambatan konsumsi bahan baku di industri nikel Indonesia kemungkinan menjadi tidak terhindarkan. (SA)