Mojtaba Khamenei terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
Senin, 09 Maret 2026

TEHERAN - Mojtaba Khamenei, putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei, seperti dilaporkan media pemerintah, telah terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.
Pengumuman ini menyusul kesepakatan yang dicapai Majelis Ahli sebelumnya. Pemimpin Tertinggi Majelis Ahli Iran secara resmi mengumumkan penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin negara dan Pemimpin Tertinggi Iran pada Minggu (8/3) malam waktu setempat. Majelis menjelaskan bahwa pemilihan pemimpin baru didasarkan pada studi yang ekstensif dan menyeluruh.
Ayatollah Hosseinali Eshkevari, anggota Majelis Ahli, menyampaikan hal tersebut pada Minggu di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa Mojtaba—ulama garis keras seperti ayahnya—akan ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran. Posisi itu memberi kewenangan keputusan akhir atas seluruh urusan negara di Republik Islam Iran.
“Nama Khamenei akan terus berlanjut,” kata Eshkevari, salah satu dari 88 anggota Majelis Ahli, dalam video yang dipublikasikan media Iran.
“Pemungutan suara telah dilakukan dan akan segera diumumkan,” tambahnya tanpa merinci lebih lanjut.
Dua sumber Iran sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa Mojtaba Khamenei, yang selama ini membangun pengaruh kuat di kalangan pasukan keamanan dan jaringan bisnis Iran di bawah kepemimpinan ayahnya, menjadi kandidat paling kuat. Jika terpilih, hal itu akan menandakan bahwa kelompok garis keras tetap memegang kendali kuat di Iran.
Mojtaba Khamenei lahir pada 1969 dan merupakan salah satu putra dari Ali Khamenei. Ia dikenal sebagai ulama Syiah yang memiliki kedekatan kuat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), meski tidak pernah memegang jabatan publik formal di pemerintahan.
Dalam dua dekade terakhir, namanya kerap disebut memiliki pengaruh signifikan di lingkaran dalam kekuasaan Iran, terutama dalam urusan politik domestik dan keamanan. Sejumlah laporan media Barat dan oposisi Iran menudingnya berperan dalam pengambilan keputusan strategis, termasuk saat gelombang protes pasca-pemilu 2009.
>> Serangan Berlanjut
Sementara itu, konflik antara Iran di satu sisi dan Amerika Serikat serta Israel di sisi lain terus meningkat. Militer AS pada Minggu melaporkan seorang warga Amerika ketujuh meninggal akibat luka yang diderita dalam serangan balasan Iran sepekan lalu, sehari setelah Presiden Amerika Donald Trump memimpin pemulangan jenazah enam korban lainnya ke Amerika Serikat.
Di tengah tekanan Trump agar Iran melakukan “penyerahan tanpa syarat”, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menegaskan Teheran tidak sedang mencari gencatan senjata dan akan menghukum para agresor.
Trump di pesawat Air Force One menegaskan bahwa tidak mencari negosiasi untuk mengakhiri konflik yang telah mendorong kenaikan harga energi global, mengganggu bisnis, dan mengacaukan perjalanan udara. “Pada suatu titik, mungkin tidak akan ada siapa pun yang tersisa [di Iran] untuk mengatakan, ‘Kami menyerah’,” ujarnya.
Pada hari kesembilan kampanye militer AS-Israel terhadap Iran, warga melaporkan asap hitam tebal menggantung di atas Teheran pada Minggu setelah serangan terhadap fasilitas penyimpanan minyak menerangi langit malam dengan kobaran api besar.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan serangan tersebut menandai “fase baru yang berbahaya” dalam konflik dan merupakan kejahatan perang.
“Dengan menargetkan depot bahan bakar, para agresor melepaskan material berbahaya dan zat beracun ke udara,” tulisnya di platform X.
Sementara itu, pada Sabtu dan Minggu dini hari, Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain juga melaporkan telah terjadi serangan drone Irani, yang mengakibatkan antara lain kebakaran besar yang melanda gedung kantor pemerintah di Kuwait, rinciannya sebagai berikut:
Sementara itu, Axios melaporkan bahwa AS dan Israel telah membahas kemungkinan mengirim pasukan khusus ke Iran untuk mengamankan persediaan uranium yang sangat diperkaya pada tahap selanjutnya dari perang.
Menanggapi kemungkinan pengiriman pasukan darat, Trump mengatakan langkah itu hanya akan dipertimbangkan jika Iran sudah begitu hancur sehingga tidak lagi mampu bertempur di tingkat darat.
Menurut Duta Besar Iran untuk PBB, serangan AS-Israel telah menewaskan sedikitnya 1.332 warga sipil Iran dan melukai ribuan lainnya.
Di pihak lain, serangan Iran dilaporkan menewaskan 10 orang di Israel dan sedikitnya enam personel militer AS. Iran pada Minggu juga mengklaim telah menyerang pangkalan AS di Kuwait, sementara Israel mengatakan dua tentaranya tewas di Lebanon selatan. (YS)