Joseph Stiglitz: Gelembung AI sedang terbentuk dan bisa pecah
Senin, 09 Maret 2026
JAKARTA - Peraih Nobel Ekonomi, Joseph Stiglitz memperingatkan bahwa lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI) saat ini berpotensi membentuk gelembung yang dapat memicu guncangan ekonomi ketika pecah.
Meski demikian, finance.yahoo (08/3), ia menilai teknologi tersebut pada akhirnya dapat menjadi alat yang meningkatkan produktivitas pekerja, bukan sepenuhnya menggantikan mereka.
“Ekonomi kita saat ini ditopang oleh investasi AI. Gelembung AI,” kata Stiglitz dalam wawancara dengan Fortune.
“Seperti sepertiga dari pertumbuhan, atau non-pertumbuhan, yang kita alami tahun lalu didasarkan pada AI. Jadi gelembung AI ini memiliki efek makroekonomi positif dalam jangka pendek. Saya percaya soal gelembung AI dalam dua hal.”
Pertama. Gelembung AI sedang terbentuk, kemungkinan besar akan pecah, akan melukai perekonomian makro, dan para pekerja akan menanggung biaya dari disrupsi tenaga kerja yang hingga kini belum memiliki institusi yang mampu mengelolanya.
Kedua. Jika berhasil melewati masa transisi itu, teknologi yang hari ini mengancam pekerjaan mungkin justru akan menjadi rekan kerja paling berguna di masa depan.
Menurut Stiglitz, investasi AI saat ini didorong oleh asumsi bahwa teknologi tersebut akan berhasil secara komersial dan menghadapi persaingan yang terbatas. Namun, ia menilai asumsi tersebut rapuh karena kompetisi global di bidang AI sudah sangat ketat.
“Pasar meyakini bahwa investasi ini akan memberikan keuntungan yang tinggi, yang didasarkan pada dua asumsi: bahwa AI akan berhasil secara teknologi dan bahwa persaingan akan terbatas,”.
Ia menilai jika AI berhasil secara teknologi tetapi persaingan terlalu besar, keuntungan perusahaan akan tertekan.
“Karena jika secara teknologi berhasil, tetapi persaingannya ketat, keuntungan akan turun hingga nol, dan mereka tidak akan mendapatkan pengembalian yang mereka harapkan.”
Stiglitz memperingatkan dampak ekonomi yang bisa terjadi jika gelembung tersebut pecah. “Jika saya benar dan ada gelembung ini, pecahnya gelembung apa pun akan sangat buruk dalam jangka pendek bagi makroekonomi.”
Ia menilai risiko tersebut semakin besar karena AI juga berpotensi menggantikan banyak pekerjaan, terutama pekerjaan kerah putih yang bersifat rutin. Sementara itu, sistem ekonomi saat ini belum memiliki mekanisme yang memadai untuk menangani perpindahan tenaga kerja dalam skala besar.
“Kita tidak memiliki kerangka kerja makro atau mikro untuk mengelola jenis pengungsian (perpindahan) seperti itu,” kata Stiglitz.
Ia menilai kondisi ini mirip dengan perubahan besar di sektor pertanian pada masa lalu, ketika peningkatan produktivitas membuat kebutuhan tenaga kerja menurun tetapi ekonomi belum siap memindahkan pekerja ke sektor lain.
“Saat Depresi Besar, keberhasilan sebagian disebabkan oleh pertanian. Kita meningkatkan produktivitas secara besar-besaran. Kita tidak membutuhkan banyak petani, tetapi kita tidak memiliki kemampuan untuk memindahkan orang dari sektor pedesaan dan akhirnya kami berhasil melakukannya pada Perang Dunia II."
Tetapi, lanjut Stiglitz, intervensi pemerintah sebagai akibat dari perang yang menyelesaikan masalah itu. "Kita tidak memiliki kerangka kerja kelembagaan untuk melakukan hal itu.”
Meski memperingatkan dampak jangka pendek, Stiglitz menilai AI dalam jangka panjang lebih berperan sebagai alat pendukung pekerjaan manusia.
Dalam sektor pendidikan, misalnya, AI dinilai dapat membantu guru tetapi tidak menggantikan peran mereka.
“Ini tidak akan menggantikan guru. Ini mungkin membantu mereka membuat rencana pembelajaran yang lebih baik. Ini mungkin membantu mereka menyesuaikan pendidikan dengan lebih baik, tetapi ini tidak akan menggantikan guru. Kita sudah cukup tahu tentang bagaimana siswa belajar sehingga interaksi manusia tampaknya masih sangat penting.”
Pandangan serupa juga berlaku di sektor kesehatan. Menurut Stiglitz, masalah utama sistem kesehatan di Amerika Serikat bukan kekurangan teknologi, melainkan persoalan struktur industri dan kebijakan.
“Apakah AI akan menyelesaikan masalah itu? Tidak. Kita tahu persis mengapa sistem perawatan kesehatan kita tidak efisien, dan itu berkaitan dengan praktik mencari keuntungan, kurangnya persaingan, dan fakta bahwa kita tidak memiliki sistem kesehatan masyarakat. Ini masalah politik. Apakah AI akan menyelesaikan masalah politik itu?”
Ia juga mencontohkan profesi seperti tukang pipa yang justru dapat memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi kerja.
“Ini mungkin akan membantu para tukang pipa melakukan pekerjaan mereka dengan lebih baik. Mereka dapat memasukkan gejala masalahnya, dan AI akan memberikan diagnosisnya, dan mungkin itu adalah pipa yang rusak di dinding, dan mungkin akan membantu mereka melakukan pekerjaan mereka dengan lebih baik. Itulah bagian bantuan kecerdasan buatan.”
Namun ia menegaskan bahwa teknologi tersebut tetap membutuhkan manusia. “But you still would need the plumber.”
Stiglitz menilai tantangan terbesar bukan pada teknologi AI itu sendiri, melainkan kemampuan ekonomi dan institusi untuk mengelola masa transisi menuju era tersebut. Tanpa kebijakan pasar tenaga kerja, program pelatihan ulang, dan strategi industri yang memadai, dampak awal dari gelombang AI berisiko menimbulkan gangguan ekonomi dan sosial yang besar.(DH)