Laba bersih ESSA turun 11% akibat tekanan harga jual di 2025

Senin, 09 Maret 2026

image

JAKARTA - Emiten milik Garibaldi “Boy” Thohir dan TP Rachmat, PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), mencatat penurunan laba bersih sepanjang 2025. Laba bersih produsen amonia dan LPG ini turun 11% menjadi US$40 juta atau sekitar Rp674 miliar (asumsi kurs JISDOR Rp16.781 per dolar AS).

Sejalan dengan penurunan tersebut, laba per saham (Earnings Per Share/EPS) tercatat sebesar US$2,339.

Berdasarkan laporan keuangan 2025, pendapatan perseroan turun 2% menjadi US$295 juta dibandingkan 301 juta pada tahun sebelumnya. Penurunan ini dipicu realisasi harga jual LPG global yang turun 8%, sedangkan harga amonia melemah 3,5% dalam periode yang sama.

Meski demikian, ESSA mencatat perbaikan kinerja pada kuartal IV-2025, terutama didorong kenaikan harga amonia yang melonjak 31% secara kuartalan.

Presiden Direktur dan CEO ESSA, Kanishk Laroya, mengatakan stabilitas operasional menjadi faktor utama dalam menjaga kinerja perusahaan, di tengah tekanan harga komoditas.

“Tingkat operasi yang optimal serta keandalan fasilitas produksi yang tinggi menjadi faktor utama kuatnya operasional ESSA, sehingga mampu mengimbangi sebagian besar dampak penurunan harga terhadap pendapatan,” ujar Kanishk dalam keterangan resmi, Jumat (06/3).

Di sisi lain, kata Kanishk, pengelolaan keuangan yang prudent juga memungkinkan ESSA menurunkan beban bunga serta memperkuat profitabilitas.

“Pada Tahun 2025, kami berhasil mencapai posisi debt-free dengan posisi kas bersih sebesar US$126 juta,” kata Kanishk. (DH/KR)