Risiko geopolitik meningkat, Bank Sentra China terus borog emas

Senin, 09 Maret 2026

image

JAKARTA - Bank sentral China, People’s Bank of China (PBOC), kembali menambah cadangan emas pada Februari, memperpanjang tren pembelian logam mulia menjadi 16 bulan berturut-turut di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Dikutip bloomberg (08/3), berdasarkan data resmi yang dirilis Sabtu, cadangan emas PBOC naik 30.000 troi ons menjadi 74,22 juta troi ons. Pembelian ini melanjutkan fase akumulasi yang dimulai sejak November 2024.

Kenaikan cadangan emas terjadi saat harga logam mulia kembali menguat dalam beberapa pekan terakhir. Emas kembali diperdagangkan di atas US$5.000 per troi ons, didorong meningkatnya permintaan aset aman setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran, yang memperbesar risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, pembelian emas oleh bank sentral global tercatat melambat pada awal tahun. Laporan World Gold Council (WGC) menyebut pembelian bersih bank sentral pada Januari hanya mencapai 5 ton, lebih rendah dibanding rata-rata 27 ton dalam 12 bulan terakhir. Pembelian terutama dipimpin oleh negara-negara di Asia Tengah dan Asia Timur.

“Fluktuasi harga emas dan musim liburan mungkin telah membuat beberapa bank sentral ragu-ragu,” tulis analis WGC Marissa Salim dalam laporannya.

Ia menambahkan, “Meskipun ketegangan geopolitik, yang menunjukkan sedikit tanda mereda, kemungkinan akan terus mendorong akumulasi hingga tahun 2026 dan seterusnya.”

Meski beberapa negara tercatat menjual emas, total pembelian masih lebih besar dari penjualan. Gubernur bank sentral Polandia pembeli emas terbesar di dunia bahkan mengusulkan penjualan sebagian cadangan emas untuk membiayai belanja pertahanan.

Sementara itu, bank sentral Rusia dan Venezuela juga dilaporkan menjual sebagian cadangan emas dalam beberapa bulan terakhir. (DH)