Kisah Mojtaba Khamenei: Tumbuh saat sang ayah melawan Shah Iran

Senin, 09 Maret 2026

image

JAKARTA – Assembly of Experts Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus Pemimpin Tertinggi Iran setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara Israel dan Amerika.

Penunjukan tersebut dinilai memperlihatkan bahwa kelompok garis keras tetap memegang pengaruh kuat dalam struktur kekuasaan Republik Islam Iran.

Dikutip dari Reuters, Senin (9/3), anggota Dewan Ulama Mohsen Heidari Alekasir mengatakan kandidat dipilih berdasarkan arahan Ali Khamenei bahwa pemimpin tertinggi Iran harus menjadi sosok yang “dibenci oleh musuh”.

“Bahkan Setan Besar (Amerika Serikat) pun menyebut namanya,” kata Heidari Alekasir, merujuk pada penerus yang dipilih, beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Mojtaba sebagai pilihan yang tidak dapat diterima oleh Washington.

Mojtaba Khamenei lahir pada 1969 di kota suci Syiah, Mashhad. Ia tumbuh pada masa ketika ayahnya terlibat dalam gerakan oposisi terhadap pemerintahan Shah sebelum Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan monarki di negara tersebut.

Pada usia muda, Mojtaba ikut bertugas dalam Perang Iran–Irak (1980–1988). Pengalaman tersebut disebut membentuk pandangan politiknya yang keras terhadap Barat serta memperkuat kedekatannya dengan kalangan militer di Iran.

Setelah perang berakhir, ia melanjutkan pendidikan agama di seminari Qom, pusat pendidikan teologi Syiah terpenting di Iran. Dari sana ia memperoleh gelar ulama tingkat menengah, Hojjatoleslam.

Meski tidak pernah memegang jabatan resmi dalam pemerintahan, Mojtaba dikenal memiliki pengaruh besar di lingkaran kekuasaan ayahnya. Ia kerap disebut sebagai “penjaga gerbang” yang mengendalikan akses ke pemimpin tertinggi Iran.

Pengaruhnya juga terlihat melalui hubungan dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), pasukan elite Iran yang memiliki peran besar dalam bidang keamanan, politik, serta jaringan ekonomi negara tersebut.

Menurut Kasra Aarabi dari lembaga United Against Nuclear Iran, Mojtaba memiliki basis dukungan kuat di tubuh IRGC, khususnya dari kalangan generasi muda yang lebih radikal.

“Dia memiliki basis pendukung yang kuat di dalam IRGC, terutama di kalangan generasi muda radikal,” kata Aarabi.

Hubungan Mojtaba dengan IRGC juga disebut mulai terbentuk sejak masa Perang Iran–Irak, ketika jaringan komandan dan relawan militer yang kemudian berkembang menjadi kekuatan politik penting di Iran mulai mengenalnya. Seiring waktu, kedekatan tersebut memperkuat posisinya di antara kelompok konservatif dan militer.

Mojtaba dikenal menentang kelompok reformis di Iran yang mendorong hubungan lebih terbuka dengan Barat, terutama terkait upaya pembatasan program nuklir Iran.

Dalam sistem politik Iran, pemimpin tertinggi memiliki kewenangan tertinggi dalam berbagai kebijakan negara, termasuk urusan luar negeri, militer, dan program nuklir.

Negara-negara Barat menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, sementara pemerintah Iran menegaskan bahwa program tersebut hanya untuk tujuan sipil.

Namun peran Mojtaba dalam lingkaran kekuasaan juga memicu kritik dari sebagian kalangan di Iran. Para kritikus menolak kemungkinan munculnya dinasti politik di negara yang lahir dari revolusi untuk menggulingkan monarki.

Ia juga diperkirakan menghadapi penolakan dari sebagian masyarakat Iran yang dalam beberapa tahun terakhir beberapa kali melakukan protes menuntut kebebasan politik lebih luas. Aksi-aksi tersebut kerap dibubarkan oleh aparat keamanan.

Mojtaba dikenal jarang berbicara di depan publik. Ia lebih sering beroperasi di balik layar, meski beberapa kali terlihat hadir dalam aksi dukungan terhadap pemerintah dan jaringan politik konservatif Iran. (DH)

Terkait: Mojtaba Khamenei terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran