ADMR siap maksimalkan kapasitas produksi smelter aluminium tahun ini

Senin, 09 Maret 2026

image

JAKARTA – PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), bagian dari Alamtri milik pebisnis Boy Thohir, menargetkan smelter aluminium yang dikelola oleh PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) untuk beroperasi penuh pada 2026.

Dalam lembar paparan publiknya, Jumat (6/3), ADMR mengungkap smelter tersebut telah melakukan pengujian dan komisioning sebagian pada kuartal 4 2025 lalu, sedangkan jetty dan sarana pendukung sudah beroperasi penuh per akhir 2025.

“KAI tetap berfokus pada peningkatan strategis operasi pot untuk mencapai kapasitas produksi penuh sampai akhir tahun,” tegas manajemen ADMR.

Sebagai catatan, biaya konstruksi smelter aluminium ADMR ini membuat belanja modal pada 2025 membengkak hingga 63% secara tahunan menjadi US$661,7 juta—meski juga terdapat andil dari proyek infrastruktur PT Maruwai Coal.

Namun, ADMR menganggarkan belanja modal pada kisaran US$220-240 juta pada 2026 mendatang. “Termasuk porsi ekuitas di KAI,” tambah manajemen.

Pada September 2025 lalu, Mahardika Putranto, Sekretaris Perusahaan ADMR, menyampaikan bahwa kapasitas produksi smelter aluminium ADMR akan mencapai 500.000 ton aluminium ingot per tahun pada fase pertama.

Kemudian, kapasitas produksi akan ditingkatkan hingga 1,5 juta ton aluminium ingot per tahun secara bertahap.

Manajemen ADMR pun memproyeksikan kapasitas terpasang smelter aluminium di Indonesia pada tahun 2026 akan mencapai 1,75 juta ton, termasuk smelter milik Perseroan.

“Dengan pertumbuhan ini, Indonesia berpotensi menjadi salah satu produsen aluminium primer utama di Asia Tenggara,” ujar manajemen.

Sebagai catatan, pada tahun 2025, suplai dan permintaan aluminium primer global tercatat masing-masing 74,3 juta ton dan 74,4 juta ton.

Menurut manajemen, permintaan aluminium global pun akan terus meningkat, bahkan akan tumbuh lebih cepat dari pasokan yang ada, sehingga terdapat defisit suplai aluminium.

China juga telah membatasi kapasitas produksi aluminium menjadi sebesar 45 juta ton. Namun, manajemen ADMR mengungkap bahwa beberapa pemain China sedang mempertimbangkan ekspansi smelter ke luar negeri, termasuk Indonesia.

Di dalam negeri, industri pemrosesan dan produksi aluminium tidak punya banyak pemain. Selain ADMR, pemain besar industri aluminium di Indonesia adalah anggota MIND ID, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).

Sebelumnya, IDNFinancials.com melaporkan ADMR mencatatkan laba bersih merosot 37,9% secara tahunan menjadi US%271,2 juta.

Meski volume produksi dan penjualan meningkat 12%, namun harga jual batu bara yang lemah sepanjang tahun membuat pendapatannya ambles 16% menjadi US$973 juta. (ZH)