Rupiah terus melemah menembus level Rp17.015/US$

Senin, 09 Maret 2026

image

JAKARTA - Mata uang Indonesia rupiah bergerak menuju level pelemahan baru seiring meningkatnya konflik di Timur Tengah yang menekan aset-aset di kawasan.

Seperti dikutip Bloomberg, kondisi ini semakin memperburuk kekhawatiran investor terhadap daya tarik investasi Indonesia serta arah kebijakan ekonomi negara tersebut.

Nilai tukar rupiah sempat melemah hingga 0,6% ke level Rp17.015 per dolar AS pada Senin (9/3), melampaui rekor terendah sebelumnya yang tercatat pada Januari dan menyentuh level yang terakhir terlihat saat krisis keuangan Asia.

Perang yang sedang berlangsung di Iran menjadi tekanan terbaru bagi aset Indonesia, seiring dengan meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven.

Kondisi ini juga mendorong bank sentral Indonesia untuk melakukan intervensi di pasar.

Selain itu, lonjakan harga minyak turut menambah kekhawatiran inflasi, mengingat Indonesia merupakan negara pengimpor minyak bersih.

Menurut Alan Lau, Analis Strategi Valuta Asing di Malayan Banking Bhd, memburuknya sentimen risiko global di tengah lonjakan harga minyak memberikan tekanan terhadap mata uang Asia, termasuk rupiah.

Ia menilai dalam jangka pendek faktor eksternal masih akan menjadi penentu utama, terutama jika harga minyak terus meningkat yang dapat membuat pasar semakin berhati-hati terhadap rupiah.

Sentimen pasar sebelumnya juga sudah tertekan setelah peringatan dari MSCI Inc. dan Moody’s Ratings yang melemahkan kepercayaan investor.

MSCI menyoroti kemungkinan penurunan status pasar Indonesia akibat masalah likuiditas dan rendahnya free float, sementara Moody’s menurunkan outlook kredit Indonesia terkait arah fiskal dan kebijakan ekonomi.

Langkah serupa kemudian diikuti oleh Fitch Ratings yang turut memangkas outlook Indonesia.

Sepanjang tahun ini, rupiah telah melemah sekitar 1,8% terhadap dolar AS, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia.

Sementara itu, IHSG juga menjadi salah satu indeks saham dengan performa terburuk secara global sepanjang tahun berjalan.

Kepala riset PT BCA Sekuritas, Christopher Andre Benas, mengatakan tekanan terhadap pasar saham berpotensi berlanjut selama ketegangan geopolitik belum mereda.

Ia menilai bagi investor dengan toleransi risiko rendah, langkah yang lebih aman adalah memangkas kerugian dan menahan dana dalam bentuk kas hingga situasi pasar membaik. (DK)