Krisis pasokan Iran, aluminium tembus level tertinggi sejak 2022

Senin, 09 Maret 2026

image

JAKARTA - Harga aluminium naik ke level tertinggi hampir empat tahun, terdorong oleh memburuknya prospek pasokan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, sementara tembaga dan logam industri lain justru melemah karena turunnya minat risiko investor.

Di London Metal Exchange, aluminium sempat naik hingga 1,6% ke US$3.499,50 per ton, level tertinggi sejak April 2022, setelah pekan lalu naik hampir 10% akibat gangguan pengiriman dari Teluk Persia.

Seperti dikutip Bloomberg, kawasan ini menyumbang sekitar 9% pasokan global, dan para pedagang bersiap menghadapi potensi gangguan lebih lanjut.

Pembeli di Amerika Serikat bergegas mencari pasokan alternatif dari Asia setelah setidaknya dua smelter besar di Timur Tengah, satu di Qatar dan satu di Bahrain,  terpaksa menghentikan pengiriman.

Harga minyak mentah melonjak sekitar 20% pada Senin(9/3), seiring perang yang membatasi produksi, mencerminkan kekhawatiran semakin dalam terkait durasi konflik dan dampaknya terhadap ekonomi global.

Pasar keuangan yang lebih luas pun terguncang karena investor menghindari aset berisiko.

“Perang yang berkepanjangan akan semakin menekan pasokan aluminium,” ujar Gao Yin, analis di Shuohe Asset Management Co. Banyak investor membeli aluminium dan menjual logam industri lain dalam jangka pendek, tambahnya.

Pada Minggu, Iran melancarkan serangan ke negara tetangga, sementara Israel menyerang depot bahan bakar di Teheran dan mengancam jaringan listrik Iran.

Presiden Donald Trump memperingatkan Amerika Serikat akan mempertimbangkan target baru yang sebelumnya tidak dibidik.

“Serangan akan terus berlangsung hingga mereka menyerah atau, kemungkinan besar, benar-benar runtuh!” tulisnya di media sosial.

Hingga pukul 9:40 pagi di Shanghai, aluminium naik 0,7% ke US$3.470,50 per ton, sementara tembaga turun 1,8% ke US$12.637 per ton dan nikel turun 3,1% ke US$16.920 per ton. (DK)