Drone serang Dubai, investor Asia gelisah pindahkan dana ke Singapura

Senin, 09 Maret 2026

image

JAKARTA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai memicu kekhawatiran di kalangan investor kaya Asia yang menempatkan asetnya di Dubai.

Sejumlah investor dilaporkan mulai mempertimbangkan memindahkan dana mereka ke pusat keuangan lain seperti Singapura dan Hong Kong setelah serangan rudal dan drone Iran terhadap Dubai.

Dikutip dari The Independent (7/3), dua pengusaha India yang berbasis di Dubai mengatakan mereka berupaya memindahkan masing-masing lebih dari US$100.000 dari rekening bank lokal ke Singapura sebagai langkah mengurangi risiko. Upaya tersebut sempat terhambat gangguan sistem setelah serangan terjadi. Namun, salah satu dari mereka akhirnya berhasil mentransfer dana melalui bank lain yang berbasis di Uni Emirat Arab.

Penasihat industri dan pengacara menyebut sejumlah investor kaya Asia lainnya juga mulai menanyakan atau menyiapkan langkah untuk memindahkan aset yang disimpan di Dubai ke pusat keuangan regional yang lebih mapan.

Pergerakan ini muncul ketika konflik yang disebut sebagai “Perang AS–Israel vs Iran” mulai memengaruhi persepsi stabilitas kawasan Teluk, yang selama ini dikenal sebagai safe haven bagi penyimpanan kekayaan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Dubai berkembang menjadi salah satu pusat pengelolaan kekayaan global. Banyak pengusaha dan keluarga kaya Asia, terutama dari China, menjadikan kota tersebut sebagai basis investasi karena kebijakan pajak yang kompetitif serta regulasi yang relatif ramah investor.

Selain itu, pertumbuhan pesat sektor properti dan infrastruktur membuat kawasan Teluk menjadi tujuan investasi. Data bank sentral menunjukkan total aset sektor perbankan dan keuangan Uni Emirat Arab (UEA) telah melampaui 5,42 triliun dirham atau sekitar US$1,48 triliun.

Namun, serangan terhadap Dubai dan Abu Dhabi mulai menimbulkan pertanyaan mengenai reputasi stabilitas negara tersebut.

Pengacara pengelola kekayaan yang berbasis di Singapura, Ryan Lin, mengatakan enam hingga tujuh dari sekitar 20 kliennya yang berbasis di Dubai telah menghubunginya pekan ini. Masing-masing klien tersebut memiliki rata-rata aset sekitar US$50 juta, dan tiga di antaranya berencana memindahkan dana ke Singapura.

“Salah satu klien sedang memeriksa seberapa cepat mereka dapat mentransfer seluruh asetnya ke Singapura,” ujarnya.

Iris Xu dari penyedia layanan korporasi dan dana global Anderson Global mengatakan sekitar 10 hingga 20 family office juga telah menghubungi perusahaannya untuk menanyakan kemungkinan memindahkan aset dari Timur Tengah ke Singapura.

“Dubai selalu mengutamakan keuntungan pajak, tetapi sekarang saya rasa keuntungan pajak mungkin bukan lagi prioritas utama mereka,” kata Xu.

Seorang penasihat manajemen kekayaan di Singapura mengatakan ia telah berbicara dengan 13 klien yang berbasis di UEA, dengan lebih dari setengahnya serius mempertimbangkan pemindahan aset.

“Terbang bolak-balik akan menjadi tantangan meskipun konflik berakhir besok. Ini soal kepercayaan diri,” ujarnya.

CEO Phillip Private Equity, Grace Tang, juga menyebut kliennya yang sebagian besar berasal dari Asia mulai gelisah. Sekitar 10 hingga 20 klien menanyakan kemungkinan memindahkan kekayaan mereka ke Singapura guna menjaga nilai aset.

Meski demikian, tidak semua pelaku industri melihat konflik tersebut akan memicu arus keluar modal secara besar-besaran.

CEO WRISE Private Middle East yang berbasis di Dubai, Dhruba Jyoti Sengupta, mengatakan perusahaannya belum melihat diskusi serius mengenai pelarian modal.

“Mereka adalah investor global yang berpengalaman dan telah melakukan diversifikasi secara internasional, tetapi tetap sangat berinvestasi dalam kisah pertumbuhan UEA,” ujarnya. “Terlepas dari gejolak geopolitik yang lebih luas di kawasan ini, klien merasa aman dan terlindungi.”

Bank sentral UEA juga menegaskan sektor perbankan dan keuangan negara tersebut tetap stabil. Gubernur bank sentral Khaled Mohamed Balama mengatakan bank, perusahaan keuangan, dan perusahaan asuransi masih beroperasi normal tanpa gangguan.

Sejumlah pengelola kekayaan besar di Singapura, termasuk Bank of Singapore dan DBS Group, menyatakan klien mereka masih memantau situasi dan memilih pendekatan menunggu sebelum mengambil keputusan investasi.

Di tengah ketegangan tersebut, sebagian pelaku bisnis tetap melanjutkan rencana ekspansi mereka di Uni Emirat Arab. (DH)