Harga minyak mendekati US$120, yield obligasi global naik

Senin, 09 Maret 2026

image

JAKARTA - Aksi jual obligasi global meningkat pada perdagangan Asia, Senin, setelah lonjakan harga minyak mendorong kekhawatiran inflasi tinggi di tengah perlambatan ekonomi global.

Dikutip bloomberg (09/3), imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun naik lebih dari tujuh basis poin, kenaikan terbesar sejak Januari 2026. Tekanan juga terlihat di pasar obligasi negara lain.

Imbal hasil obligasi tiga tahun Australia naik ke level tertinggi sejak 2011, sementara kontrak berjangka obligasi pemerintah Jerman turun mendekati level terendah hampir 15 tahun.

Harga minyak mentah yang melonjak mendekati US$120 per barel menjadi pemicu utama gejolak pasar. Harga tersebut naik hampir 80% sejak perang Iran mengganggu pengiriman minyak dari Timur Tengah.

Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran bahwa bank sentral harus mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk menahan inflasi, meskipun pertumbuhan ekonomi melemah. Kondisi tersebut meningkatkan risiko stagflasi di ekonomi global.

Ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve juga berubah. Pelaku pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga baru terjadi pada September. Sebelumnya, pada akhir Februari, pasar memperkirakan langkah tersebut bisa dilakukan pada Juli. Sebagian trader bahkan menilai bank sentral AS mungkin tidak memangkas suku bunga sama sekali tahun ini. Kekhawatiran pasar juga dipicu oleh gangguan pengiriman energi di Selat Hormuz.

“Penghentian pengiriman di Selat Hormuz selama seminggu memicu guncangan energi yang meningkat pesat, menaikkan harga minyak dan gas, meningkatkan nilai dolar AS dan imbal hasil global, serta menantang konsensus perdagangan tahun 2026 seiring meningkatnya risiko stagflasi,” tulis Sim Moh Siong. analis Oversea-Chinese Banking Corp, dalam catatan riset.

Menurut International Monetary Fund, kenaikan biaya energi sebesar 10% yang bertahan selama setahun dapat meningkatkan inflasi global sekitar 0,4 poin persentase dan menekan pertumbuhan ekonomi hingga 0,2 poin persentase.

Bloomberg Intelligence menyebut permintaan minyak biasanya mulai melemah ketika harga mencapai sekitar US$133 per barel. Sementara itu, tekanan juga muncul dari sisi pasokan energi. Pemangkasan produksi di Kuwait dan Uni Emirat Arab memperketat pasokan global setelah penutupan Selat Hormuz.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi acuan naik tajam di Australia, Selandia Baru, dan Korea Selatan. Pasar utang Indonesia dan Jepang juga melemah, dengan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun melonjak sekitar 11,5 basis poin.

Obligasi pemerintah China turut turun. Kontrak berjangka obligasi 30 tahun mencatat penurunan terbesar tahun ini setelah sebelumnya sempat lebih kuat dibanding pasar global. (DH)