G7 gelar rapat darurart, siap lepas cadangan minyak 400 juta barel
Selasa, 10 Maret 2026

JAKARTA - Harga minyak dunia melemah setelah negara-negara anggota G7 mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak strategis untuk meredam lonjakan harga akibat konflik di Timur Tengah.
Sejumlah media internasional, termasuk Financial Times dan Australian Financial Review, melaporkan para menteri keuangan G7 akan menggelar pertemuan darurat untuk membahas opsi pelepasan cadangan minyak. Pertemuan tersebut juga melibatkan kepala International Energy Agency (IEA).
Dikutip oilprice (09/3), dalam pembahasan itu, volume pelepasan yang dipertimbangkan berkisar 300 juta hingga 400 juta barel. Kabar tersebut langsung memicu aksi jual di pasar energi sehingga harga minyak Brent dan WTI terkoreksi dari kenaikan sebelumnya, meski keduanya masih diperdagangkan di atas US$100 per barel.
Jumlah yang dibahas jauh lebih besar dibanding pelepasan cadangan yang dikoordinasikan IEA pada 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina. Saat itu, IEA melepas 240 juta barel, dengan sekitar setengahnya berasal dari Amerika Serikat.
Laporan Financial Times menyebut sedikitnya tiga anggota IEA, termasuk Amerika Serikat, menyatakan minat untuk melakukan pelepasan cadangan secara bersama.
Sebelumnya, Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyatakan pasar masih memiliki pasokan cukup.
“Ada banyak minyak, kita tidak mengalami kekurangan minyak,” kata Birol setelah pertemuan dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan para anggota Komisi. “Ada surplus besar di pasar.”
Namun tekanan pasokan dinilai meningkat setelah konflik di Timur Tengah dan perubahan kebijakan sanksi terhadap minyak Rusia. Amerika Serikat disebut melonggarkan sebagian sanksi terhadap minyak mentah Rusia yang akan dikirim ke India, tetapi langkah itu diperkirakan belum cukup mengatasi keketatan pasokan global.
Meski demikian, analis menilai pelepasan cadangan hingga 400 juta barel belum tentu memberikan dampak signifikan terhadap harga minyak jika belum ada tanda pemulihan pasokan global.(DH)