Ribuan penerbangan batal, InJourney andalkan wisata domestik
Selasa, 10 Maret 2026

JAKARTA - PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney menilai konflik geopolitik di Timur Tengah serta kenaikan harga energi global berpotensi menekan sektor penerbangan dan pariwisata nasional.
Direktur Komersial InJourney Veronica H. Sisilia mengatakan kondisi energi, pergerakan nilai tukar, dan dinamika global akan berdampak pada industri transportasi dan perjalanan.
“Kita semua paham, kondisi energi, nilai tukar, dan situasi global pasti ada dampaknya. Tidak mungkin tidak berdampak, termasuk ke penerbangan,” ujar Veronica, dikutip dari ANTARA, dalam konferensi pers InJourney Hospitality terkait kesiapan menyambut Idul Fitri 1447 H di Gedung Sarinah, Jakarta, Senin.
Menurut dia, lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar secara umum memengaruhi biaya operasional industri penerbangan dan perjalanan.
Meski demikian, InJourney menilai sektor pariwisata domestik masih menunjukkan ketahanan. Data internal perusahaan mencatat pertumbuhan wisatawan domestik pada 2025 sekitar 14,4% dengan total pergerakan mencapai 101 juta perjalanan.
Pada periode yang sama, kunjungan wisatawan mancanegara tercatat sekitar 1,14 juta orang. Veronica berharap tren tersebut dapat menjadi penopang sektor pariwisata jika pasar internasional tertekan akibat situasi geopolitik.
“Kami berharap wisata domestik tetap kuat. Itu yang menjadi salah satu fondasi sektor pariwisata saat ini,” katanya.
Ia menambahkan InJourney yang mengelola ekosistem bandara, destinasi, dan perhotelan menyiapkan strategi penguatan destinasi berbasis budaya serta pengembangan destinasi prioritas nasional untuk menjaga daya tarik wisata di tengah ketidakpastian global.
Perusahaan juga memproyeksikan pergerakan wisatawan pada periode libur Lebaran 2026 tetap positif, didorong momentum libur panjang dan peningkatan minat perjalanan domestik.
“Wisata domestiknya relatif ke apapun yang InJourney siapkan, balik ke cultural (budaya) dan apa pun yang kami punya di budaya Indonesia. Mudah-mudahan ini tetap baik, semuanya lancar, selamat. Dan balik lagi, kami ingin sebagai penyedia jasa ini, semua orang menikmati jalan-jalan ini dengan hati yang tenang,” ujarnya.
Di sisi lain, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran juga berdampak langsung pada operasional penerbangan internasional. Sejumlah maskapai global menghentikan sementara penerbangan ke berbagai kota di Timur Tengah.
Seperti diberitakan IDNFinancials, industri penerbangan dan pariwisata menghadapi gangguan besar akibat eskalasi perang udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Lebih dari 20.000 penerbangan dibatalkan dalam beberapa hari terakhir, memicu gangguan perjalanan di Timur Tengah dan jalur jarak jauh global.
Data Flightradar24 menunjukkan sekitar 21.300 penerbangan dibatalkan di tujuh bandara utama, termasuk Dubai, Doha, dan Abu Dhabi, sejak serangan dimulai.
Sementara itu, otoritas Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta mencatat puluhan penerbangan rute Timur Tengah dibatalkan sejak eskalasi konflik tersebut.
Secara kumulatif, sedikitnya 60 penerbangan dari dan menuju Timur Tengah dibatalkan sejak akhir Februari 2026 akibat perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu penutupan sejumlah ruang udara di kawasan. (DH)