Rupiah menguat ke Rp16.863 per dolar Amerika

Rabu, 11 Maret 2026

image

JAKARTA - Rupiah di pasar spot ditutup di level Rp16.863 per dolar AS pada akhir perdagangan Selasa (10/3), menguat 0,51% dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp16.949 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, seperti dikutip dari Kompas, mengatakan penguatan rupiah didorong oleh sejumlah faktor eksternal dan domestik.

Secara eksternal, penguatan rupiah dipicu oleh percakapan telepon antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump.

Dalam pembicaraan tersebut, Putin menyampaikan proposal untuk mempercepat penyelesaian konflik dengan Iran.

Menanggapi hal ini, Trump menyatakan dalam wawancara dengan CBS News bahwa perang melawan Iran “hampir selesai” dan posisi Washington “jauh lebih maju” dibanding perkiraan awal yang diproyeksikan empat hingga lima minggu.

Meski demikian, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan Teheran yang akan menentukan akhir konflik dan memperingatkan tidak akan membiarkan ekspor minyak dari kawasan tersebut jika serangan AS dan Israel berlanjut.

Sementara itu, harga minyak global tetap berada di bawah tekanan setelah Trump mempertimbangkan opsi seperti pelonggaran sanksi minyak Rusia dan pelepasan cadangan minyak darurat.

G7 juga siap mengambil langkah jika harga minyak global terus melonjak, meski belum berkomitmen melepas cadangan minyak.

Di sisi domestik, tekanan global mulai memengaruhi ekonomi Indonesia. Cadangan devisa Indonesia tercatat menurun dari US$154,6 miliar pada Januari 2026 menjadi US$151,9 miliar pada Februari 2026, akibat intervensi moneter Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah serta pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Meski turun, Bank Indonesia menegaskan posisi cadangan devisa masih memadai, setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri, jauh di atas standar internasional yang biasanya tiga bulan impor. (DK)