Rudal serang kilang, BUMN minyak Bahrain umumkan force majeur
Rabu, 11 Maret 2026

TEHERAN - Serangan baru rudal dan drone Iran kembali menargetkan negara-negara Teluk. Perusahaan minyak negara Bahrain menyatakan kondisi force majeure pada Senin setelah kilang mereka terbakar akibat serangan yang dikaitkan dengan Iran.
Serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan setelah Iran menargetkan aset milik Amerika Serikat di negara-negara Teluk sebagai balasan atas serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari.
Seperti dikutip Aljazeera, dampaknya, sejumlah wilayah udara di kawasan Teluk ditutup dan aktivitas produksi serta distribusi minyak ikut terganggu.
Perusahaan minyak Bahrain, Bapco, menyatakan bahwa pihaknya terpaksa mengumumkan force majeure karena operasi perusahaan terdampak konflik regional yang sedang berlangsung serta serangan terhadap kompleks kilangnya.
Di wilayah lain, Arab Saudi berhasil mencegat empat drone yang mengarah ke ladang minyak Shaybah. Sementara itu, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait juga melaporkan adanya serangan rudal.
Pada Minggu, sedikitnya dua orang dilaporkan tewas dan 12 lainnya terluka setelah sebuah proyektil jatuh di kawasan permukiman di wilayah Al-Kharj, Arab Saudi.
Reporter Mohammed Jamjoom dari Al Jazeera yang melaporkan dari Doha mengatakan peringatan serangan muncul sekitar pukul 03.15 waktu setempat.
Beberapa menit kemudian terdengar serangkaian ledakan akibat sistem pertahanan udara yang mencegat rudal yang datang dari Iran.
Di Bahrain, media pemerintah melaporkan setidaknya 32 warga sipil, termasuk anak-anak, terluka akibat serangan drone Iran di wilayah Sitra, selatan ibu kota Manama. Sementara itu di Uni Emirat Arab, sistem pertahanan udara kembali diaktifkan untuk menanggapi ancaman rudal dan drone yang masuk.
Selain itu, kebakaran juga dilaporkan terjadi di zona industri minyak Fujairah setelah puing-puing drone yang berhasil dicegat jatuh di kawasan tersebut.
Pemerintah Arab Saudi mengecam keras serangan Iran dan menyebutnya sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan.
Melalui akun resmi Kementerian Luar Negeri, kerajaan menegaskan kembali kecaman terhadap agresi Iran terhadap negara-negara Teluk, sejumlah negara Arab dan Islam, serta negara sahabat lainnya.
Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan menurunkan eskalasi konflik dalam wawancara dengan Sky News.
Ia menegaskan bahwa Qatar akan terus berkomunikasi dengan Iran untuk mencari jalan de-eskalasi.
Ia juga menyebut serangan terhadap Qatar sebagai “pengkhianatan besar” dari kepemimpinan Iran, mengingat sebelumnya beberapa negara kawasan telah menyatakan tidak akan terlibat dalam perang melawan Iran serta telah berupaya mencari solusi diplomatik.
Di sisi lain, Israel pada Senin melancarkan gelombang serangan baru yang menargetkan infrastruktur di Iran bagian tengah.
Serangan tersebut terjadi setelah Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai penerus ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas pada 28 Februari dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Sejumlah tokoh politik Iran dilaporkan telah menyatakan kesetiaan kepada pemimpin tertinggi yang baru.
Menurut laporan, sedikitnya 1.255 orang tewas dan ribuan lainnya terluka akibat serangan yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat di berbagai wilayah Iran. Pada Minggu, Israel juga membombardir beberapa fasilitas minyak Iran untuk pertama kalinya sejak konflik ini berlangsung.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya sempat meremehkan Mojtaba Khamenei dengan menyebutnya sebagai sosok yang “ringan”.
Namun pada Minggu ia menyatakan bahwa dirinya seharusnya memiliki peran dalam penunjukan pemimpin baru Iran. (DK)