NASA: Citra satelit tunjukkan sejumlah jembatan besar rentan rusak

Rabu, 11 Maret 2026

image

WASHINGTON – Citra satelit terbaru mengungkap jembatan-jembatan di berbagai belahan dunia yang memiliki risiko kerusakan struktural tertinggi, sekaligus membuka peluang metode baru untuk memantau infrastruktur sipil secara lebih efektif.

Sebuah studi berbasis satelit yang didukung NASA menunjukkan bahwa jembatan bentang panjang di Amerika Utara menghadapi risiko kerusakan paling tinggi secara global, disusul oleh jembatan di Afrika.

Seperti dikutip independent.co.uk, temuan ini dinilai penting untuk meningkatkan sistem pemantauan infrastruktur transportasi yang rentan terhadap bencana alam maupun penuaan struktur.

Jembatan merupakan salah satu komponen paling krusial dalam jaringan transportasi, namun juga termasuk yang paling rentan terhadap kerusakan akibat faktor alam, beban lalu lintas, serta usia infrastruktur.

Selama ini, banyak otoritas daerah di berbagai negara masih mengandalkan inspeksi visual langsung untuk menilai kondisi jembatan. Metode tersebut dinilai subjektif dan berisiko melewatkan tanda-tanda awal kerusakan struktural.

Para ilmuwan mencatat kurang dari 20% jembatan dengan panjang lebih dari 150 meter yang dilengkapi sistem pemantauan struktural permanen untuk mendeteksi perubahan kondisi.

Perkembangan teknologi satelit kini menawarkan pendekatan baru. Satelit dengan teknologi radar pencitraan, khususnya Synthetic Aperture Radar (SAR), mampu mendeteksi pergeseran struktur hingga beberapa milimeter—indikasi awal potensi kerusakan yang sering kali belum terlihat melalui inspeksi manual.

Analisis global terhadap 744 jembatan yang dilakukan peneliti dari University of Houston menunjukkan bahwa banyak jembatan di Amerika Utara yang dibangun pada 1960-an kini berada dalam kondisi paling rentan.

Beberapa jembatan yang termasuk dalam penelitian tersebut antara lain Verrazzano-Narrows Bridge di New York, Vincent Thomas Bridge di Los Angeles, Sunshine Skyway Bridge di Florida, Humber Bridge di Inggris, serta Matadi Bridge di Republik Demokratik Kongo.

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications, banyak jembatan di Amerika Serikat dan Kanada kini telah mendekati, bahkan melampaui, masa pakai desain awalnya.

Peneliti menyebut teknologi radar berbasis satelit dapat digunakan untuk memantau lebih dari 60% jembatan bentang panjang di dunia secara rutin.

Dengan mengintegrasikan data satelit ke dalam sistem manajemen risiko, jumlah jembatan yang dikategorikan berisiko tinggi berpotensi berkurang secara signifikan—terutama di wilayah yang tidak mampu memasang sensor konvensional karena biaya yang mahal.

Metode ini juga memungkinkan pengukuran deformasi jembatan dilakukan lebih sering dibandingkan metode tradisional, yang biasanya hanya dilakukan beberapa kali dalam setahun dan memerlukan inspeksi langsung di lapangan.

Para ilmuwan berharap teknologi ini akan semakin berkembang dengan dukungan satelit baru bernama NISAR, proyek kerja sama antara NASA dan Indian Space Research Organisation (ISRO).

Satelit tersebut diperkirakan mampu memotret hampir seluruh jembatan di dunia dua kali setiap 12 hari. Selain memantau jembatan, teknologi ini juga dapat digunakan untuk mengawasi berbagai infrastruktur penting lain seperti bendungan, rel kereta, bangunan, dan tanggul. (DK)