CEO Aramco Amin Nasser: Krisis kali ini yang terbesar di Teluk

Rabu, 11 Maret 2026

image

JAKARTA - Perusahaan minyak nasional Arab Saudi, Saudi Aramco, memperingatkan pasar energi global dapat menghadapi dampak besar jika gangguan pengiriman minyak di Selat Hormuz terus berlanjut akibat konflik Amerika Serikat - Israel dengan Iran.

Dikutip theguardian, CEO Aramco, Amin Nasser, mengatakan krisis tersebut menjadi gangguan terbesar bagi industri minyak dan gas di kawasan Timur Tengah. “Meskipun kami pernah menghadapi gangguan di masa lalu, krisis kali ini adalah yang terbesar yang pernah dihadapi industri minyak dan gas di kawasan ini.”

Gangguan pelayaran di jalur strategis tersebut telah menahan pengiriman minyak dari kawasan Teluk sejak serangan Amerika Serikat ke Iran sekitar 11 hari lalu. Kondisi itu diperkirakan menghilangkan sekitar 20 juta barel minyak per hari dari pasar global.

Aramco menyatakan masih dapat memasok sekitar 70% dari ekspor normalnya dengan mengalihkan pengiriman melalui pipa east-west menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Perusahaan menargetkan kapasitas pengiriman melalui pipa tersebut mencapai 7 juta barel per hari dalam beberapa hari ke depan, dengan sekitar 5 juta barel per hari dialokasikan untuk pasar ekspor.

Meski demikian, Nasser menegaskan gangguan yang berkepanjangan akan menekan pasar energi dan ekonomi global. “Akan ada konsekuensi bencana bagi pasar minyak dunia.  Semakin lama gangguan ini berlangsung… semakin drastis konsekuensinya bagi perekonomian global.”

Biasanya sekitar 100 kapal tanker melintasi Selat Hormuz setiap hari. Namun jumlahnya turun drastis setelah Islamic Revolutionary Guard Corps mengancam akan menyerang kapal yang menggunakan jalur tersebut. Selat Hormuz sendiri menjadi jalur utama bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.

Di tengah ketegangan tersebut, harga minyak Brent crude sempat melonjak hingga US$119 per barel, level tertinggi sejak Invasi Rusia ke Ukraina 2022. Namun harga kemudian turun menjadi sekitar US$85 per barel setelah Donald Trump menyatakan konflik dapat berakhir dalam waktu dekat.

Sementara itu, negara-negara G7 meminta International Energy Agency menyiapkan skenario pelepasan cadangan minyak darurat untuk menstabilkan pasar. Negara anggota lembaga tersebut memiliki lebih dari 1,2 miliar barel cadangan minyak pemerintah, di luar sekitar 600 juta barel stok industri yang disimpan untuk menghadapi gangguan pasokan global.(DH)