Trump lempar sinyal damai, Wall Street kehilangan momentum
Rabu, 11 Maret 2026

JAKARTA - Pasar saham Wall Street ditutup melemah pada Selasa setelah sempat menguat pada awal perdagangan. Investor mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perang di kawasan tersebut berpotensi segera berakhir.
Dikutip dari reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,07%, S&P 500 melemah 0,2%, sementara Nasdaq Composite bergerak relatif datar setelah kehilangan penguatan awal.
Di pasar komoditas, harga minyak justru turun tajam lebih dari 11%. Minyak Brent merosot US$11,16 atau 11% menjadi US$87,80 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) ditutup di US$83,45 per barel, turun US$11,32 atau 11,9%. Kedua acuan tersebut mencatat penurunan harian terbesar sejak Maret 2022, setelah sehari sebelumnya melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun.
Pernyataan Trump pada Senin malam sempat meningkatkan optimisme pasar. “Ini akan segera berakhir, dan jika dimulai lagi, mereka akan terkena dampak yang lebih parah,” katanya.
Namun, situasi di Iran menunjukkan dinamika berbeda. Kelompok garis keras menyatakan dukungan terhadap pemimpin tertinggi baru Mojtaba Khamenei, sementara Garda Revolusi Iran menegaskan blokade ekspor minyak akan berlanjut hingga serangan Amerika Serikat dan Israel dihentikan.
Sameer Samana, Kepala Global Equities and Real Assets di Wells Fargo Investment Institute, menilai harga minyak WTI dalam jangka menengah berpotensi kembali ke kisaran US$65–US$75 per barel seiring fundamental ekonomi dan kinerja laba perusahaan yang masih kuat.
“Kami akan terus mencoba untuk mengabaikan berita utama jangka pendek tersebut, karena kami melihat konflik ini akan berlangsung selama beberapa minggu atau bulan dan tidak akan mengubah prospek ke depan secara signifikan,” kata Samana.
Di sisi lain, perbaikan sentimen investor mendorong penguatan pasar saham di Eropa dan Asia. Indeks STOXX 600 di Eropa naik 1,65% setelah sebelumnya melemah selama tiga sesi perdagangan berturut-turut. Sementara itu, indeks saham Asia-Pasifik di luar Jepang versi MSCI naik sekitar 3%.
Di pasar obligasi, ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa (ECB) mulai berkurang. Imbal hasil obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun relatif stabil di level 2,86%.
Analis BlackRock Investment Institute menilai pergerakan pasar mencerminkan gangguan ekonomi yang kemungkinan berlangsung selama beberapa minggu.
“Harga pasar menunjukkan gangguan selama berminggu-minggu, bukan berhari-hari atau berbulan-bulan,” tulis analis BlackRock. “Ada risiko guncangan stagflasi tetapi itu bukan kepastian, seperti yang ditunjukkan oleh harga pasar.”
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 1,8 basis poin menjadi 4,152% setelah sempat turun pada awal perdagangan. Pelaku pasar juga menunda perkiraan waktu penurunan suku bunga oleh Federal Reserve, dengan pemangkasan pertama kini diperkirakan terjadi pada Juli, menurut alat FedWatch milik CME Group.
Analis ING menilai imbal hasil obligasi masih berada di level tinggi. “Kita masih berada di level yang mengkhawatirkan,” kata analis ING. “Perkirakan imbal hasil nominal akan turun untuk sementara waktu karena perdagangan pembalikan tren. Tetapi jangan mengharapkan reli struktural yang dramatis pada obligasi.”
Sementara itu, rupiah pada penutupan perdagangan Selasa menguat ke level Rp16.863 per dolar AS, naik sekitar 0,51% dibandingkan penutupan sebelumnya di tengah pergerakan dolar global dan sentimen geopolitik dari konflik Timur Tengah.
Di pasar mata uang, indeks dolar AS bertahan menguat tipis karena minat investor terhadap aset berisiko masih terbatas. Harga emas naik sekitar 1,15% menjadi US$5.195 per ons, sementara bitcoin menguat 1,58% ke sekitar US$70.094. (DH)