IEA siap lepas cadangan minyak terbesar sepanjang sejarah, harga naik
Rabu, 11 Maret 2026

JAKARTA – Harga minyak dunia bergerak fluktuatif pada Rabu setelah laporan The Wall Street Journal menyebut International Energy Agency (IEA) mengusulkan pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah untuk mengatasi gangguan pasokan akibat perang dengan Iran.
Dikutip dari Reuters, kontrak berjangka Brent crude naik tipis 11 sen atau 0,13% menjadi US$87,91 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 7 sen atau 0,08% ke US$83,52 per barel. Kedua kontrak sempat melemah setelah laporan tersebut muncul, membalikkan penguatan awal di pasar.
Menurut laporan WSJ, rencana pelepasan cadangan oleh IEA berpotensi melampaui 182 juta barel minyak yang pernah dilepas negara anggota lembaga itu pada 2022 saat terjadi invasi Rusia ke Ukraina. Hingga kini, IEA dan Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi atas laporan tersebut.
International Energy Agency (IEA) merupakan organisasi energi internasional yang berbasis di Paris, Prancis. Lembaga ini didirikan pada 1974 oleh negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) sebagai respons terhadap krisis minyak global pada 1973, dengan tujuan meningkatkan keamanan energi serta koordinasi kebijakan energi di antara negara anggotanya.
IEA memiliki mekanisme cadangan minyak darurat yang memungkinkan negara-negara anggotanya secara kolektif melepas stok minyak strategis ke pasar ketika terjadi gangguan pasokan global. Mekanisme ini telah digunakan beberapa kali, termasuk pada 2022 ketika negara anggota IEA sepakat melepas 182 juta barel minyak untuk menstabilkan pasar setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Di sisi lain, konflik militer di Timur Tengah terus memicu ketidakpastian pasokan energi. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar terhadap Iran pada Selasa. Militer AS juga menyatakan telah menghancurkan 16 kapal penebar ranjau Iran di sekitar Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan minyak global.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan Washington siap mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz jika diperlukan. Namun, sumber Reuters menyebut Angkatan Laut AS menolak permintaan industri pelayaran untuk pengawalan karena risiko serangan dinilai terlalu tinggi.
Pada perdagangan sebelumnya, kedua kontrak minyak anjlok lebih dari 11% pada Selasa, penurunan harian terbesar sejak 2022. Penurunan terjadi setelah harga sempat melonjak di atas US$119 per barel pada Senin, level tertinggi sejak Juni 2022.
Analis pasar dari IG di Sydney, Tony Sycamore, menilai harga minyak masih akan bergerak volatil dalam waktu dekat.
“Kami memperkirakan harga minyak mentah akan tetap sangat fluktuatif, dipengaruhi oleh berita terbaru. Perdagangan kemungkinan berada dalam kisaran lebar antara sekitar US$75 hingga US$105 per barel dalam beberapa sesi mendatang,” katanya.
Sementara itu, negara-negara G7 mulai membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak darurat untuk menstabilkan pasar. Presiden Prancis Emmanuel Macron dijadwalkan memimpin pertemuan virtual para pemimpin G7 untuk membahas dampak konflik Timur Tengah terhadap pasar energi.
Di sisi lain, perusahaan minyak Abu Dhabi ADNOC menghentikan operasi di Ruwais Refinery setelah terjadi kebakaran akibat serangan drone di kompleks tersebut. Gangguan ini menambah tekanan pada pasokan energi global.
Konsultan energi Wood Mackenzie memperkirakan perang saat ini memangkas pasokan minyak dan produk minyak dari kawasan Teluk sekitar 15 juta barel per hari. Kondisi tersebut berpotensi mendorong harga minyak hingga US$150 per barel jika konflik berlanjut.
Sementara itu, bank investasi Morgan Stanley memperingatkan bahwa meskipun konflik mereda dengan cepat, gangguan pada pasar energi global kemungkinan masih akan berlangsung selama beberapa minggu. (DH)