CELIOS: Digital banking bisa cegah pelaku UMKM pinjam ke rentenir
Rabu, 11 Maret 2026
JAKARTA – Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mengungkap bahwa transaksi ekonomi digital diproyeksikan melesat pada tahun 2026, ditopang transaksi pembayaran digital menggunakan QRIS yang dapat menembus Rp4,2 triliun tahun ini.
Selain itu, Nailul Huda, Diretur Ekonomi Digital CELIOS, menyebutkan bahwa transaksi digital dan adopsi mobile banking juga memberikan dampak positif bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari segi pembiayaan.
Pasalnya, ia menyoroti tren penurunan pada bentuk pinjaman dari individu, termasuk pihak rentenir, dalam sepuluh tahun terakhir, dari 41% di tahun 2014 menjadi sekitar 30% di tahun 2024.
“Artinya, peminjaman dari individu, seperti bank, rentenir dan sebagainya, itu semakin menurun. Yang naik adalah yang menggunakan handphone, atau perbankan digital,” tambah Nailul Huda.
Berdasarkan data CELIOS, tren pinjaman daring diproyeksikan akan terus tumbuh dari tahun 2024 hingga 2026 dengan kenaikan rata-rata sekitar 14,5% per tahun, dan dapat mencapai Rp395,1 miliar per akhir 2026 mendatang.
Hal ini didukung data pertumbuhan akun bank digital serta pinjaman dari bank digital, yang naik hingga masing-masing 37% dan 26,4% pada tahun 2024.
“Memang kita tengah mengalami pergeseran untuk proses peminjaman, dari yang individu atau rentenir, kepada perbankan yang berbasis mobile banking,” tegas Nailul Huda dalam acara Digital Banking & Economic Outlook 2026 yang digelar PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) di Jakarta, Selasa (10/3).
-
Peran Bank Digital dalam Menghidupkan UMKM
Lebih lanjut, Nailul Huda menyebutkan bahwa pelaku UMKM merupakan salah satu segmen pasar yang dapat ditangkap bank digital, karena bank konvensional kini mulai menarik diri dari pelayanan kredit untuk UMKM.
Porsi kredit UMKM ditargetkan mencapai 30% dari total kredit yang disalurkan di Indonesia. Namun nyatanya, Nailul Huda mengungkap bahwa kini angkanya masih di level 20%—lebih rendah dibandingkan saat pandemi.
Di sisi lain, pelaku UMKM menyebutkan beberapa faktor penghambat untuk menjajaki opsi pembiayaan dari bank konvensional, termasuk suku bunga yang dinilai tinggi dan masalah administrasi, mulai dari prosedur hingga ketersediaan agunan.
Menurut Josua Sloane Solagracia, Senior Vice President of MSME AMAR, digitalisasi perbankan seharusnya dapat melahirkan inovasi perbankan untuk melayani masyarakat lebih baik dan lebih luas, misalnya dengan credit scoring dan proses onboarding yang lebih unggul.
Nailul Huda juga mengharapkan ke depannya, segmen UMKM dapat mendapatkan pembiayaan lebih inklusif – yang didorong peran digital banking – melalui kemudahan layanan dan credit scoring, tanpa mengorbankan kualitas kredit.
“Saya rasa sebenarnya itu bisa meng-catch up peluang untuk menjadi UMKM yang lebih tinggi,” ujarnya.
Dari sisi Amar Bank, Josua mengungkap bahwa 60% portofolio kredit AMAR kini terdiri dari usaha mikro, dengan total nasabah hingga sekitar 400 ribu.
Kemudian, menurut Yosua Sulivan, Head of Finance AMAR, per 2025, AMAR mencatatkan pertumbuhan kredit hingga 35% secara tahunan, dengan estimasi NPL net terjaga di kisaran 1%. (ZH)