Lonjakan harga minyak kembali bebani saham AS hingga Asia

Kamis, 12 Maret 2026

image

JAKARTA – Kenaikan harga minyak mentah pada Rabu berpotensi menjadi pemberat bagi pasar saham di kawasan Asia, sekaligus memperpanjang volatilitas perdagangan yang telah berlangsung lebih dari sepekan.

Sejumlah negara sebelumnya telah menyampaikan rencana membuka cadangan minyak strategis, sebagai respons atas gangguan jalur perdagangan minyak global di Selat Hormuz. Gangguan ini sempat mendorong harga minyak mentah dunia melonjak sekitar 20%.

Terbaru, harga minyak WTI naik 6,3% pada Rabu di AS menuju level US$92,79 per barel. Kenaikan harga minyak berlanjut meski Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) sepakat melepas 400 juta barel dari cadangan minyak strategis.

Langkah itu menjadi pelepasan cadangan terbesar dalam sejarah.

Di awal sesi Asia hari ini, kontrak berjangka indeks saham di Jepang, Hong Kong, dan Australia bergerak melemah.

Sedangkan di Wall Street, indeks S&P 500 turun tipis 0,1% dan Nasdaq Composite cenderung datar.

“Meski ada prospek pelepasan cadangan minyak, ketidakpastian yang berlanjut berarti menunjukkan risiko kenaikan harga minyak tetap ada,” kata Ellen Zentner dari Morgan Stanley Wealth Management, seperti dikutip Bloomberg.

Pandangan itu berbeda dengan sikap Presiden Donald Trump, yang mengklaim pelepasan cadangan akan menurunkan harga minyak mentah.

Di Asia, nilai tukar yen sempat menyentuh level terendah terhadap dolar AS pada Rabu, namun kini berada di kisaran 159 per dolar AS.

Lebih dari sepertiga konsensus ekonom yang dihimpun Bloomberg optimis bank sentral Jepang akan menaikkan suku bunga acuannya pada April 2026.

Tak hanya Jepang, bank sentral AS juga berpeluang mengubah kebijakan moneternya dalam menghadapi gejolak di pasar energi dunia.

“Dengan inflasi berada di atas target hampir lima tahun, mungkin lebih sulit bagi The Fed untuk acuh dalam merevisi suku bunga acuan,” jelas Seema Shah dari Principal Asset Management. (KR)