LNG Qatar tutup, Shell aktifkan force majeure untuk kontrak global

Kamis, 12 Maret 2026

image

JAKARTA - Perusahaan energi global Shell plc menyatakan force majeure atas kargo gas alam cair (LNG) yang dibeli dari QatarEnergy dan dipasarkan kepada pelanggan di berbagai negara.

Informasi ini dilaporkan oleh Reuters yang mengutip sejumlah sumber. Langkah tersebut menyusul keputusan Qatar menghentikan produksi di fasilitas LNG berkapasitas 77 juta ton per tahun (mtpa) dan menetapkan force majeure atas pengiriman LNG.

Dikutip aljazeera, Shell menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut. Beberapa pembeli LNG Qatar lainnya, termasuk TotalEnergies dan sejumlah perusahaan Asia, juga menerima pemberitahuan force majeure dari Qatar. Mereka kemudian memberi tahu pelanggan bahwa penjualan LNG asal Qatar dihentikan selama fasilitas tersebut masih ditutup.

Gangguan pasokan juga berdampak pada perusahaan perdagangan energi Oman, OQ. Menurut laporan Bloomberg News, perusahaan itu menyatakan force majeure kepada pelanggannya di Bangladesh karena pasokan LNG dari Qatar terhenti.

Sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada Reuters bahwa TotalEnergies belum menyatakan force majeure. Istilah ini merujuk pada kondisi di luar kendali Perusahaan seperti bencana alam yang dapat membebaskan pihak dari kewajiban kontrak tanpa sanksi.

Shell dan TotalEnergies merupakan mitra lama QatarEnergy serta terlibat dalam proyek ekspansi besar North Field yang ditargetkan meningkatkan kapasitas produksi LNG pada 2027.Analis memperkirakan Shell menerima sekitar 6,8 juta ton per tahun LNG dari Qatar, sedangkan TotalEnergies sekitar 5,2 juta ton per tahun.

Menteri Energi Qatar, Saad Al-Kaabi sebelumnya mengatakan kepada Financial Times bahwa pemulihan pengiriman LNG bisa memakan waktu “berminggu-minggu hingga berbulan-bulan”, bahkan jika konflik berakhir hari ini.

Sumber Reuters menyebut pengiriman LNG untuk Maret masih berjalan normal. Dampak gangguan pasokan diperkirakan mulai terasa pada April.(DH)