Laba Aramco turun 12%, pertama kali dalam sejarah akan buyback

Kamis, 12 Maret 2026

image

JAKARTA - Saudi Aramco membukukan laba bersih sepanjang tahun 2025, sebesar US$93,4, turun sekitar 12% dibandingkan tahun sebelumnya seiring melemahnya harga minyak global.

Di tengah penurunan kinerja tersebut, perusahaan energi terbesar di dunia itu juga mengumumkan program pembelian kembali saham (buyback) hingga US$3 miliar, yang menjadi buyback pertama dalam sejarah perusahaan.

Dikutip reuters, laporan kinerja itu dirilis saat pasar energi global bergejolak akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ketegangan di kawasan tersebut memicu gangguan pelayaran di Strait of Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dunia.

Chief Executive Officer Aramco, Amin Nasser, memperingatkan dampak besar jika konflik terus mengganggu jalur tersebut. Ia menyebut potensi “konsekuensi bencana” bagi pasar minyak global.

Gangguan pengiriman juga memaksa Aramco mengalihkan sebagian rute kapal melalui Red Sea. Program buyback akan dijalankan selama 18 bulan. Chief Financial Officer Aramco, Ziad Al-Murshed, mengatakan saham yang dibeli kembali nantinya akan dialokasikan kepada karyawan perusahaan.

Secara kinerja, laba bersih Aramco berada di bawah estimasi analis sebesar US$95,6 miliar menurut data LSEG. Pada kuartal keempat saja, laba bersih turun 20,5% menjadi sekitar US$17,8 miliar akibat meningkatnya biaya operasional. Penurunan tersebut menandai kuartal ke-12 berturut-turut laba tahunan perusahaan melemah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Pendapatan sepanjang tahun turun 7,2% menjadi US$415,8 miliar, terutama dipicu penurunan harga minyak mentah serta melemahnya produk olahan dan petrokimia.

Harga minyak rata-rata pada 2025 sekitar US$68 per barel, turun sekitar 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini juga mendorong perusahaan energi global lain seperti BP, TotalEnergies, dan Equinor mengurangi atau menghentikan program buyback saham mereka.

Aramco juga mencatat penurunan nilai aset sebesar 14,6 miliar riyal terkait sejumlah fasilitas hilir di dalam dan luar negeri akibat revisi proyeksi arus kas. Selain itu, perusahaan membukukan penurunan nilai tambahan 4,45 miliar riyal yang berkaitan dengan penutupan fasilitas hilir internasional.

Perusahaan membayar dividen dasar sebesar US$21,1 miliar untuk kuartal keempat serta dividen berbasis kinerja sebesar US$219 juta. Total dividen sepanjang 2025 mencapai US$85,5 miliar, turun dari US$124 miliar pada tahun sebelumnya.

Sebagai penyumbang utama pendapatan negara, Aramco memiliki peran penting bagi keuangan Saudi Arabia. Pemerintah Saudi secara langsung menguasai sekitar 81,5% saham perusahaan, sementara dana kekayaan negara Public Investment Fund memegang sekitar 16% saham lainnya.

Belanja modal perusahaan tercatat US$50,1 miliar pada 2025 dan diperkirakan berada di kisaran US$50 miliar hingga US$55 miliar pada 2026. Analis dari JPMorgan menilai proyeksi tersebut menunjukkan 2026 berpotensi menjadi puncak belanja perusahaan untuk proyek-proyek yang sedang berjalan.

Di sisi produksi, Aramco meningkatkan produksi hidrokarbon menjadi 12,9 juta barel setara minyak per hari pada 2025, dari 12,4 juta barel per hari pada tahun sebelumnya. Sementara total cadangan hidrokarbon perusahaan turun menjadi 247,2 miliar barel setara minyak.

Nasser mengatakan permintaan minyak global masih kuat. Ia memperkirakan konsumsi minyak dunia mencapai rekor 107,3 juta barel per hari pada 2026, meningkat sekitar 1,1 juta barel per hari terutama didorong kebutuhan bahan bakar transportasi dan petrokimia.(DH)