Data saham 1% RLCO terbuka, 7 investor pegang 77% free float
Kamis, 12 Maret 2026

JAKARTA – Pengungkapan data kepemilikan saham lebih dari 1% di Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan perspektif baru bagi investor.
Selama ini, publik hanya dapat melihat komposisi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 5%. Dengan batas baru tersebut, deretan nama investor, dari individu, institusi, hingga pengelola aset, mulai terlihat menggenggam saham perusahaan tercatat di bursa.
Sebelumnya, sebagian investor tampak menjaga kepemilikan di bawah 5% agar identitasnya tidak muncul ke publik.
Demi meningkatkan transparansi pasar saham, BEI menurunkan ambang pengungkapan data kepemilikan tersebut menjadi di atas 1% dan mempublikasikannya secara bulanan sejak 3 Maret 2026.
Salah satu emiten yang menarik dicermati melalui data ini adalah PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO).
Produsen dan eksportir sarang burung walet ini melantai di bursa pada 8 Desember 2025 dengan melepas 20% sahamnya ke publik untuk meraup dana Rp105 miliar.
60% Total Ekuitas
Dana yang diperoleh tersebut setara sekitar 60% dari total ekuitas RLCO sebelum melantai di bursa, sebagaimana disampaikan dalam prospektus penawaran umum perdana saham.
Dalam proses penawaran awal, permintaan investor terhadap saham RLCO bahkan kelebihan permintaan (oversubscribe) sebanyak 948 kali.
Penjamin pelaksana emisi efek dalam IPO RLCO, PT Samuel Sekuritas Indonesia, mencatat partisipasi lebih dari 755.000 SID untuk saham yang dibanderol dengan harga Rp168 per lembar tersebut.
Setelah melantai di bursa, harga saham RLCO kemudian melesat sekitar 680% ke kisaran Rp1.540 per lembar hingga akhir Desember 2025. Pada periode itu, jumlah pemegang saham tercatat 279.042 investor, dengan penerima manfaat akhir dari kepemilikan saham adalah Edwin Pranata, pendiri sekaligus Direktur Utama RLCO.
Reli kenaikan harga saham berlanjut hingga akhir Januari 2026 dan mencapai rekor tertinggi di Rp8.700 per lembar, atau naik ribuan persen hanya dalam waktu sekitar dua bulan.
Namun, komposisi kepemilikan saham RLCO berubah drastis dalam waktu singkat.
Jumlah pemegang saham RLCO tercatat 40.238 investor pada akhir Februari 2026, turun 85,6% dalam dua bulan atau dari 279.042 investor pada akhir Desember 2025. Padahal ada aksi jual dari pemegang saham kunci RLCO pada hingga Februari 2026.
Di tengah lonjakan harga saham yang mencapai ribuan persen tersebut, BEI sempat menyuspensi perdagangan saham RLCO selama sepekan.
Setelah suspensi dibuka, harga saham RLCO terkoreksi sekitar 40%.
7 Investor Kuasai 15,4% Free float
Namun, merujuk pada data pemegang saham di atas 1% dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang diolah IDNFinancials.com, terdapat sejumlah nama investor dalam daftar pemegang saham RLCO per 27 Februari 2026, antara lain:
Jika dijumlahkan, di luar kepemilikan Realco Omega dan Edwin, ada tujuh investor yang jika dijumlahkan memiliki sekitar 15,40% saham RLCO.
Angka tersebut setara sekitar 77% dari porsi 20% saham publik RLCO yang beredar (free float).
Dari daftar tersebut, juga terlihat bahwa tiga nama memiliki keterkaitan dengan kelompok usaha Samuel, yaitu PT Samuel Sekuritas Indonesia, PT Samuel Tumbuh Bersama, serta Eunice M. Satyono, dengan total kepemilikan sekitar 7,23% saham RLCO atau 36,6% dari total free float.
PER 740,9 Kali
Langkah BEI dan KSEI dalam mengungkap data kepemilikan saham di atas 1% ini sejalan dengan proposal Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Kebijakan tersebut juga merupakan respons terhadap isu konsentrasi kepemilikan saham oleh kelompok tertentu yang dapat memengaruhi pembentukan harga saham di pasar.
Isu tersebut sebelumnya menjadi perhatian MSCI hingga akhirnya lembaga tersebut menangguhkan rebalancing indeks untuk saham dari Indonesia, serta membuka peluang penurunan klasifikasi pasar Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.
Harga saham RLCO sendiri telah turun 14,60% sejak awal bulan dan kini berada di level Rp5.850 per lembar.
Meskipun telah mengalami koreksi cukup dalam, saham RLCO masih diperdagangkan pada valuasi yang tinggi, dengan Price to Earnings Ratio (PER) sekitar 740,9 kali serta sekitar 103 kali di atas nilai bukunya. (KR/MT)