Tarif LNG carrier melonjak, BULL tambah kapal tanker 78.000 DWT
Kamis, 12 Maret 2026
JAKARTA - PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) memperkuat posisinya di bisnis transportasi Liquefied Natural Gas (LNG), dengan menambah satu kapal tanker baru ke dalam jajaran armadanya.
Corporate Secretary BULL, Krisnanto Tedjaprawira, mengatakan kapal tanker LNG kedua milik perseroan ini, berkapasitas 78.000 Deadweight Tonnage (DWT), serta dijadwalkan masuk proses serah terima pada kuartal pertama 2026.
“Hal ini mencerminkan komitmen kami untuk terus mengembangkan bisnis transportasi LNG, baik melalui pertumbuhan organik seperti pembelian kapal tanker LNG maupun melalui peluang pertumbuhan non-organik seperti akuisisi perusahaan kapal tanker LNG,” ujar Krisnanto Tedjaprawira, dalam keterangan yang disampaikan ke bursa pada Kamis (12/3).
Krisnanto menilai prospek pasar LNG global masih sangat kuat, terutama dengan dimulainya gelombang ketiga ekspansi LNG yang diprediksi mencatat tambahan kapasitas fasilitas pencairan gas, lebih dari 200 juta ton per tahun hingga 2030.
“Hampir 97 juta ton per tahun kapasitas baru yang akan hadir pada 2025 dan 2026, dengan produksi maksimum pada 2026 hingga 2027,” kata Krisnanto.
Menurut Krisnanto, gelombang ekspansi itu akan meningkatkan pengiriman LNG ke kawasan Asia dan mendorong permintaan ton-mile kapal tanker LNG.
Permintaan ini diperkirakan tumbuh kumulatif 30,7% pada periode 2026–2027, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan armada yang hanya sekitar 19,2%, sehingga berpotensi memperketat pasar sekitar 11,5%.
“Perkembangan geopolitik terkait Iran dan Rusia akan semakin memperkuat ekspansi permintaan ton-mile ini, telah menyebabkan tarif kapal tanker LNG melonjak hampir 18 kali lipat sejak akhir Februari 2026,” jelas Krisnanto.
Bahkan pekan lalu dilaporkan sebuah kapal tanker LNG disewa dengan tarif sekitar US$300.000 per hari untuk pengiriman kargo spot.
Seiring berbagai faktor tersebut, BULL memperkirakan tarif kapal tanker LNG akan tetap kuat dalam waktu ke depan.
“Tarif kapal tanker LNG diperkirakan akan tetap kuat dan kemungkinan akan semakin menguat,” ujar Krisnanto.
Krisnanto juga menegaskan komitmennya melanjutkan transformasi bisnis melalui strategi empat pilar utama, yaitu: transportasi minyak mentah dan produk minyak, transportasi LNG, fasilitas FPSO/FSO untuk produksi dan penyimpanan migas lepas pantai, serta pengembangan Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) untuk regasifikasi LNG. (DK/KR)