Kuwait dan UEA mulai turunkan produksi minyak
Kamis, 12 Maret 2026

JAKARTA - Uni Emirat Arab dan Kuwait mulai menurunkan produksi minyak setelah konflik di Timur Tengah membuat arus pelayaran di Selat Hormuz hampir terhenti. Gangguan pada jalur ekspor utama minyak dunia itu mulai menekan pasokan global dan mendorong harga energi naik.
Dikutip Reuters, perusahaan minyak nasional UEA, Abu Dhabi National Oil Co. (Adnoc), mengatakan tengah menyesuaikan produksi lepas pantai untuk mengatasi keterbatasan kapasitas penyimpanan.
Adnoc menyatakan sedang mengelola tingkat produksi lepas pantai untuk memenuhi kebutuhan penyimpanan, tanpa merinci besaran penyesuaian produksi.
Sementara itu, Kuwait Petroleum Corp. (KPC) menyatakan menurunkan produksi di ladang minyak dan kilang setelah muncul ancaman terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Perusahaan tersebut menyebut langkah itu diambil menyusul ancaman Iran terhadap keselamatan pelayaran kapal melalui Selat Hormuz.
Konflik yang berlangsung di Timur Tengah membuat jalur pelayaran di Selat Hormuz—perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas—nyaris tertutup bagi lalu lintas kapal. Kondisi ini menghambat ekspor dari kawasan produsen minyak terbesar dunia dan mendorong harga minyak Brent di London naik hingga hampir US$93 per barel, level penutupan tertinggi dalam lebih dari dua tahun.
Pengurangan produksi Kuwait dimulai sekitar 100.000 barel per hari pada Sabtu dan diperkirakan meningkat hampir tiga kali lipat pada Minggu, dengan penyesuaian lanjutan bergantung pada kapasitas penyimpanan dan perkembangan situasi di Selat Hormuz, menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut.
UEA sendiri memanfaatkan jalur ekspor yang tidak melalui Selat Hormuz untuk menjaga pasokan ke pasar global. Negara itu mengoperasikan pipa berkapasitas 1,5 juta barel per hari menuju Fujairah di pantai barat UEA. Adnoc juga menyatakan operasi darat perusahaan tetap berjalan normal.
Langkah UEA dan Kuwait mengikuti sejumlah produsen lain di kawasan yang mulai menahan produksi. Irak sebelumnya mengurangi produksi karena tangki penyimpanan mulai penuh, sementara Arab Saudi menghentikan operasi kilang terbesar mereka. Qatar juga menutup fasilitas ekspor gas alam cair terbesar di dunia setelah serangan drone.
Kuwait Petroleum juga menyatakan force majeure atas penjualan minyak dan produk kilang. Klausul tersebut memungkinkan perusahaan tidak memenuhi kewajiban kontrak akibat keadaan di luar kendali. Data Bloomberg menunjukkan Kuwait memproduksi sekitar 2,57 juta barel minyak per hari pada Januari. Seluruh ekspor negara itu bergantung pada jalur Selat Hormuz.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan harga minyak diperkirakan turun setelah konflik mereda. “Kami memperkirakan harga minyak akan naik, dan memang akan naik,” kata Trump kepada wartawan di Air Force One. “Harga minyak juga akan turun. Dan akan turun dengan sangat cepat.”
>> Tanpa Resiko?
Secara teknis, di dunia peengeboran minyak, pengurangan produksi minyak tidak selalu mudah dilakukan tanpa risiko. Penurunan produksi yang terlalu cepat atau tidak terkelola dapat memengaruhi tekanan reservoir dan kondisi sumur, sehingga berpotensi merusak formasi atau peralatan produksi.
Dalam beberapa kasus, sumur yang produksinya diturunkan secara drastis bahkan berisiko tidak dapat kembali ke tingkat produksi semula ketika operasi kembali dinormalisasi.
Seperti dikutip dari jpt.spe.org, menutup atau menghentikan sementara produksi sumur minyak (shut-in) memiliki risiko penurunan kemampuan aliran ketika sumur kembali dioperasikan. Risiko tersebut bergantung pada kondisi seluruh sistem aliran, mulai dari formasi reservoir hingga fasilitas pengambilan produksi. Pada beberapa sistem, seperti sumur gas kering bertekanan tinggi, penutupan katup mungkin tidak menimbulkan masalah besar saat produksi dimulai kembali. Namun pada banyak sumur lain, perubahan kondisi selama shut-in dapat membuat proses restart menjadi lebih sensitif dan berisiko.
Risiko meningkat ketika fluida di dalam sumur terpisah dan tekanan gas mendorong cairan kembali masuk ke formasi reservoir. Kondisi ini dapat memicu terbentuknya endapan organik, lumpur, atau emulsi akibat reaksi kimia di dalam kolom cairan statis di sumur, terutama jika terdapat komponen seperti CO₂ dan air yang kaya besi.
Jika cairan tersebut masuk kembali ke pori-pori batuan reservoir dan bercampur dengan fluida alami di dalamnya, terbentuknya endapan dapat menghambat aliran dan menurunkan produktivitas sumur ketika produksi dimulai kembali. (DH/MT)