Goldman Sachs naikkan proyeksi harga brent jadi US$71 per barel
Kamis, 12 Maret 2026

JAKARTA - Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak mentah Brent dan WTI untuk kuartal IV 2026 seiring meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.
Seperti dikutip Reuters, bank investasi tersebut kini memperkirakan harga Brent akan mencapai US$71 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) di level US$67 per barel pada kuartal keempat 2026.
Proyeksi ini lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya masing-masing US$66 dan US$62 per barel. Kenaikan outlook tersebut didorong oleh potensi gangguan yang lebih lama terhadap aliran minyak melalui Selat Hormuz akibat perang antara AS-Israel dan Iran.
Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, harga Brent telah melonjak lebih dari 36%, sedangkan WTI naik sekitar 39%.
Kedua patokan minyak tersebut bahkan sempat menyentuh level US$119 per barel pada Senin lalu, yang menjadi posisi tertinggi sejak pertengahan 2022.
Pertempuran yang terjadi di kawasan tersebut secara efektif menghambat aktivitas di Selat Hormuz.
Sejumlah kapal tanker dilaporkan terjebak selama lebih dari sepekan, sementara beberapa produsen minyak terpaksa menghentikan produksi karena kapasitas penyimpanan hampir penuh.
Dalam catatan riset pada Kamis, analis Goldman Sachs menyatakan kini memperkirakan aliran minyak melalui Selat Hormuz hanya berada di sekitar 10% dari kapasitas normal selama 21 hari, sebelum pulih secara bertahap dalam 30 hari berikutnya.
Perkiraan ini lebih lama dibandingkan proyeksi sebelumnya yang hanya memperhitungkan gangguan selama 10 hari.
Bank tersebut juga menilai harga minyak harian berpotensi melampaui puncaknya pada 2008 jika gangguan aliran minyak melalui Selat Hormuz terus berlangsung hingga Maret.
Goldman turut memasukkan kemungkinan respons kebijakan dalam modelnya, termasuk pelepasan cadangan minyak strategis global sebesar 254 juta barel serta tambahan 31 juta barel minyak mentah Rusia.
Langkah ini diperkirakan dapat mengurangi dampak terhadap persediaan minyak komersial global hampir 50%.
Sebelumnya, Badan Energi Internasional (IEA) menyepakati pelepasan rekor 400 juta barel minyak dari cadangan strategis guna meredam lonjakan harga minyak dunia sejak awal konflik, dengan Amerika Serikat menjadi kontributor terbesar.
Dalam skenario dasar Goldman Sachs, aliran minyak melalui Selat Hormuz diperkirakan mulai pulih secara bertahap setelah 21 Maret.
Dalam kondisi tersebut, negara-negara anggota IEA diperkirakan tidak akan sepenuhnya melepas seluruh 400 juta barel cadangan yang tersedia.
Hal ini didasarkan pada asumsi adanya batas logistik sekitar 3 juta barel per hari untuk penarikan dari Cadangan Strategis negara-negara OECD, serta pelepasan yang dilakukan secara bertahap selama empat minggu hingga awal Juni.
Pada periode itu, harga WTI diperkirakan mulai stabil di kisaran US$70 per barel. (DK)