IQOS laris manis di 2025, laba HMSP masih stagnan
Kamis, 12 Maret 2026

JAKARTA – PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) mencatatkan laba bersih merosot tipis 0,55% secara tahunan menjadi Rp6,61 triliun pada akhir tahun 2025, seiring lesunya penjualan.
Penjualan produk tembakau HMSP menyusut hingga 4,84% menjadi Rp112,17 triliun pada 2025, akibat penurunan pendapatan dari segmen produk utama HMSP, seperti Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Kretek Tangan (SKT).
Namun, dua segmen produk justru menunjukkan pertumbuhan. Misalnya, produk Sigaret Putih Tangan (SPT) keluaran HMSP, yang mencatatkan penjualan naik 5,24% menjadi Rp958,39 miliar.
Selain itu, segmen produk bebas asap bahkan mencatatkan lonjakan penjualan hingga 43,82% menjadi Rp2,45 triliun per 2025.
Kini, produk bebas asap HMSP – termasuk IQOS, VEEV, dan ZYN – sudah mewakili 2,18% dari total penjualan tahun 2025, berkembang dari kontribusi sebesar 1,44% terhadap penjualan tahun 2024.
Hal ini sejalan dengan strategi induk global HMSP, Philip Morris International Inc (PMI), yang hendak mengakselerasi transformasi ke bisnis produk bebas asap, seperti dilaporkan IDNFinancials.com sebelumnya.
Menurut keterangan PMI, peralihan fokus bisnis ini merespon peningkatan kontribusi produk bebas asap terhadap pendapatan bersih global PMI, yang mencapai 41% dari US$10,8 miliar pada akhir kuartal III 2025 lalu.
PMI bahkan menargetkan seluruh pendapatan utamanya akan berasal dari produk tanpa asap dalam beberapa tahun ke depan.
Di sisi lain, meski penjualan HMSP menyusut, beban pokok penjualan berhasil dipangkas hingga 7,8%. Di tengah kenaikan beban produksi, bea pita cukai masih bisa ditekan, dan pembelian barang dagangan juga terpangkas lebih dari 50%.
Hal ini mendongkrak laba kotor HMSP tumbuh 11,24% menjadi Rp20,62 triliun, sehingga marginnya pun naik dari 15,72% menjadi 18,38%.
Namun, beban pajak yang membengkak 38,08% membebani kinerja laba bersih tahun 2025, meski margin laba bersih masih tumbuh tipis dari 5,64% menjadi 5,89%.
Per Desember 2025, total aset HMSP menyusut menjadi Rp51,56 triliun, dipengaruhi oleh liabilitas yang menurun menjadi Rp23,21 triliun. Kas dan setara kas Perseroan justru melonjak dua kali lipat lebih menjadi Rp4,77 triliun. (ZH)