Jensen Huang: Nvidia kini berada dalam situasi 'no-win'

Selasa, 25 November 2025

image

CALIFORNIA - CEO Nvidia Jensen Huang mengatakan kepada karyawan bahwa perusahaan kini berada dalam situasi 'tanpa menang' (no-win situation) akibat kekhawatiran pasar terhadap potensi gelembung AI, meskipun kinerja Nvidia terus mencetak rekor.

Pernyataan itu muncul dalam pertemuan internal yang rekamannya diperoleh Business Insider.

“Perusahaan dalam situasi 'no-win'. Kinerja kuartal kita luar biasa, tapi pasar tidak menghargainya.” ujar Huang, sehari setelah Nvidia melaporkan pendapatan tertinggi lainnya dan mengungkap bahwa perusahaan memiliki proyeksi pendapatan hingga setengah triliun dolar untuk 2025–2026.Dikutip finance.yahoo.com, alih-alih mengapresiasi capaian itu, investor justru membalikkan arah pasar. Saham Nvidia sempat menguat pada Kamis, namun kemudian berbalik turun dan menyeret saham-saham terkait AI lainnya.Huang menilai ekspektasi terhadap Nvidia kini begitu ekstrem hingga membuat perusahaan dalam situasi 'tanpa menang' dan rentan dalam kondisi apa pun.“Jika kita laporannya buruk, itu dianggap bukti gelembung AI. Jika kita laporannya hebat, kita dianggap memicu gelembung itu,” katanya. "Sedikit saja meleset, dunia seolah akan runtuh.”Komentar tersebut memberi gambaran langka tentang bagaimana salah satu tokoh utama ledakan AI dunia itu melihat meningkatnya sentimen negatif terhadap fenomena itu, sekaligus reaksi pasar yang berubah drastis dari hari ke hari.

Juru Bicara Nvidia mengatakan bahwa setelah kuartal dengan pertumbuhan luar biasa dan permintaan yang sangat tinggi, pesan Huang kepada karyawan adalah tetap fokus dan membiarkan pasar berjalan sesuai mekanismenya.Secara fundamental, kinerja Nvidia sesuai harapan investor: penjualan prosesor data center kembali melonjak, dan perusahaan menaikkan proyeksi untuk kuartal berjalan.Namun setelah sempat naik 5% pada awal perdagangan, saham Nvidia justru ditutup turun sekitar 3% karena rotasi investor menjauhi saham-saham teknologi yang identik dengan tren AI.Koreksi ini memperpanjang tekanan pada “AI trade” setelah reli berbulan-bulan.Kekhawatiran kini muncul bahwa raksasa teknologi menggelontorkan belanja terlalu besar untuk data center, GPU, dan jaringan tanpa kepastian imbal hasil.Pasar juga mulai menyoroti struktur pendanaan pembangunan infrastruktur AI yang kompleks dan sarat utang, sementara indikator kredit mulai mengirim sinyal waspada.Tekanan semakin berat dengan munculnya ketidakpastian makroekonomi. Laporan ketenagakerjaan AS yang tertunda akibat shutdown menunjukkan perekrutan kuat namun disertai kenaikan tingkat pengangguran, sehingga tidak memberi kejelasan apakah Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada Desember. (DK)